No.17

Tangan Tini kelihatan gemetar , tubuhnya lemah, duduk pun dia tidak kuasa lagi. Shalat pun dilakukan Tini dengan telentang.

Intainews.com:TINI masih belum mau makan, untuk itu belakangan ia memilih puasa setiap hari. Jadi kegiatannya bertambah, dari sebelumnya shalat, berdoa, baca alquran, membaca buku karangan Ustadz Daham, kini bertambah dengan berpuasa. Tubuhnya semakin terlihat kecil dan agak pucat. Bibirnya pun pecah-pecah, namun kemolekannya tidak hilang tetap saja cantik dan punya magnet menarik perhatian lawan jenisnya.

Namun sayang Tini benar-benar tidak tertarik dengan lelaki siapapun dia, semuanya hambar. Di mata dan di hatinya hanya ada Ustadz Daham. Dirinya tidak untuk yang lain, kecuali Ustadz. Hampir setiap malam tidurnya diisi oleh mimpi bersama Ustadz yang diyakinya hidup bersama Ana, adalah keterpaksaan, hanya menghormati dan menjunjung tinggi permintaan Bundanya.

Tidak,…tidak sepenuhnya Ustadz menyayangi istrinya. Hidupnya sehari-hari dengan Ana, namun sayang cintanya menjadi milik Tini.

“Ingatlah Tin, apa kata dokter Muslim, hidupmu harus realistis. Hindari pemikiran yang absurd yang hanya membuat tambah sakit hatimu,…” begitu kata Pida menasihati sahabatnya yang sudah sangat lemah.

“Iya Tin, tak ada gunanya buah hati kekasih orang. Logis saja berfikir, saat ini Ustadz sudah jauh dari hatimu. Ketika kamu seperti ini mengingat dia, menumpuk harapan agar dia mau menerimamu, di saat yang sama Utadz merasa bahagia dengan istrinya yang sudah hamil. Apa yang kamu pikirkan, sama dengan mengumpul asap dalam kantong plastik, dirasa ada namun tidak kelihatan.”

“Sudahlah Lies, Pida. Aku semakin tahu kalau kalian mulai risih dan tidak senang dengan apa yang menjadi pikiranku. Sebaiknya aku pergi saja,….”

“ Hei,Tin! Tidak sedikit pun kami membencimu,…..” kata Lies.

“Iya Tin, kami sayang samamu. Kami tidak mau kalau ada apa-apa samamu.” Pida menimpali.

“Ada apa sebenarnya denganku? Adakah yang salah dengan aku, kalau ada aku minta maaf…mana tau besok aku sudah tidak ada,…”

“Tin! Kau ngomong apa?” Lies meletakkan telapak tangannya di kepala Tini. Ternyata panas sekali.

“Pid, panas sekali kepalanya. Panggillah dokter Muslim.”

“Jangan, dia lagi istirahat. Kemarikan saja obat yang resepnya dari dia.” Pida mengambil obat dan air mineral. Tangan Tini kelihatan gemetar , tubuhnya lemah, duduk pun dia tidak kuasa lagi. Shalat pun dilakukan Tini dengan telentang.
Lies tak kuasa menahan kesedihan melihat sahabatnya yang seperti sekarat. Air mata Lies membasahi pipi. Pida juga ikut menangis. * Bersambung