No.16

Tidak tahu apa lagi yang harus diusahakan untuk mempertemukan Tini dengan Ustadz.

Intainews.com:MAHASISWA sudah keluar dari lokal, itu tandanya hari sudah sore. Namun Haji Sardan masih terus membicarakan tentang Kartini. Menurut mereka, Tini harus dibantu, harus dicarikan jalan bagaimana dia bisa pulih. Haji Sardan diam, Pida yang dikenal periang dan kocak, kali ini menyinggung tentang harapan hidup Tini yang semakin parah, pida terdiam, dirinya ketakutan. Pida takut kalau sampai Tini meninggal dunia. Lies juga diam, seperti Haji Sardan yang juga seperti tafakur. Mata Lies basah, air mata membahasi pipi sampai bibir ikut basah.

“Apakah Bapak bisa membawa Ustadz Daham sebentar saja ke tempat Tini, supaya kita temukan mereka. Biar bicara dan melepas rindu,…” kata Lies seperti memelas berharap Haji Sardan bisa membujuk Ustadz supaya mau menemui Tini. Haji Sardan menggeleng.

“Sepertinya tidak mungkin, tidak bisa. Istrinya 24 jam berada di sisi Ustadz Daham.

“Kenapa sampai sebegitunya Pak Haji,..” Pida bertanya.

“Istrinya tidak kerja, sudah keluar dari PNS hanya untuk dekat dengan suaminya.”

“Apakah dia tahu, Tini merindukannya? Sehingga dijaga terus, jangan sampai lengah.”

“Apalagi sekarang, istrinya sedang hamil muda. Alasan itu pula yang membuat istrinya beralasan ingin sangat dekat suaminya seperti lepat dengan daun,” kata Haji Sardan.

“Tapi Pak Haji, harus kita cari jalan, supaya Tini sehat dan tidak dibebani dan dibayang-bayangi kematian,” Lies mengatakan itu seperti didramatisasi.

“Sekarang Ustadz sudah sering ceramah di kota maupun di Jakarta. Iklannya sudah ada ustadz akan ceramah di televisi. Di situ kan ada peluang. Biar kami bawa Tini ke Jakarta asal bisa bertemu Ustadz.”

Pak Haji Sardan mendengarkan dengan cermat, setiap kata-kata Lies. Pida juga mencerna ucapan Lies.

“Betul, cocok. Pak haji tinggal memastikan jadwalnya.”

“Ceramah di televisi itu sudah direkam di Medan, karena istrinya sedang hamil dan tidak bisa ke luar kota.”

“Apa setiap suaminya ceramah agama istrinya ikut?”

“Ya di mana saja Ustadz pergi ceramah istrinya tetap ikut.”

Kemudian, diam lagi. Semua terdiam. Tidak tahu apa lagi yang harus diusahakan untuk mempertemukan Tini dengan Ustadz Daham.

“Kita sama-sama cari jalan keluarnya. Besok kita ketemu lagi. Sementara, bisikkan dulu ke telinganya, Pak Haji Sardan mau bertamu, bolehkan?” ungkap Pak Haji.*Bersambunga.