No. 15

“Dia tunjukkan, kain kafan yang sudah dibelinya, untuk tidak menyusahkan siapa pun kalau ia meninggal sekarang ini.”

Intainews.com:HAJI Sardan yang kembali berkeliling di kota mengirimkan pesanan buku-buku karangan Ustadz Daham berjudul ‘LA’, seperti biasa mampir ke kampus di mana Lies, Pida dan Tin kuliah. Ini dilakukan selain bisa ketemu Tini, atau Lies dan Pida, juga harga makanan serta minuman, berikut kue-kue murah diselaraskan dengan kantong mahasiswa.

Kali ini Haji Sardan hanya bisa bertemu dengan Pida dan Lies, tidak ada Tini. Sudah lima hari sakit. Tidak tahu sakitnya apa. Dokter Musilm mengatakan Tini bukan sakit fisik, tetapi batinnya yang sakit, maka dokter meminta agar Tini berpikir realistis.

“Tapi Tini tidak mau mengatakan apa yang dipikirkannya. Dari gerak-geriknya setelah dia baca buku Ustadz Daham di situlah mulai tidak bersemangat dan tidak mau makan,” begitu kata Lies yang paling dekat dengan Tin sehari-hari.

“Apakah saya bisa melihat Tini,…”

“Jangan dulu pak, nanti kami tanyakan dulu dengan Tin, apakah mau Bapak temui. Tapi kalau Tini sakit disampaikan ke Ustadz Daham tidak ada salahnya,” kata Pida.

“Yang lalu, salam dari Tini untuk Utadz sudah sampaikan,…”

“Reaksinya pak?”

“Biasa saja. Tapi dari mata dan kata-kata Ustadz, dia tidak pernah melupakan Tini, adalah gadis yang pertama sekali ada tempat di hatinya. Dia berpesan supaya Tini kuat mejaga dirinya dan berjalan di garis-Nya yang lurus. Allah kelak akan hadir dalam kehidupan Tini,… mencabut semua penderitaannya,” ujr Lies.

“Sebetulnya Pak, kami merasakan tetap masih ada getar di hati Tini yang paling dalam. Walaupun Tini menolak setiap kami singgung soal Ustadz Daham. Tapi dari hari ke hari dia lebih banyak mengerjakan shalat, membaca alquran dan berdoa. Selain itu membaca buku Ustadaz Daham berulang-ulang, sampai buku itu kumal,” Pida menceritakan.

“Belakangan Tini lebih banyak ngomong soal kematian. Dia tunjukkan, kain kafan yang sudah dibelinya, untuk tidak menyusahkan siapa pun kalau ia meninggal sekarang ini,” ungkap Lies.

Haji Sardan terkejut tidak bicara sepatah kata pun. Dengan hatinya dia berjanji menyampaikan soal Tini kepada Ustadz Daham. Walau sangat berat mendapat waktu bicara dengan Daham. Karena Ana kelihatan semakin lengket dengan suaminya, Ana tidak mau sekilas bayangan pun suaminya lepas dari pandangan matanya. *Bersambung