Pelukis Yatim saat menyerahkan karyanya 'Tandok' kepada Wan Hidayati

Medan-Intainews.com:“Melalui lukisan ini [Tandok] , saya melihat perjuangan seorang ibu etnis Batak benar-benar gigih berjuang untuk masa depan anak-anaknya. Sehingga disebut ‘Anakkon hi do hamoraon di au‘ dapat terserap penuh maknanya,” ungkap Kadisbudpar Sumatera Utara [Sumut], DR Wan Hidayati.

Seterusnya pelukis terkenal di Sumut, Syaiful Yatim yang melukis Tandok menjelaskan roh karya lukisnya. Buat nenek ku di Samosir, aku tau lapuk dan rapuhnya dinding rumah itu serapuh dan selapuk raga mu. Pecah retak guci tempat air di sana sepecah dan seretak harapan mu dalam kehidupan.

Jari tangan dan kaki tua mu menjadi saksi bisu perjalanan itu. Namun karya-karya mu lah yang selalu menjembatani hubungan sosial di antara kami. Begitu narasi Yatim tatkala menejemahkan sebuah lukisannya Tandok.

Sebuah lukisan seorang nenek tua karya Syaiful Yatim, nenek digambarkan sedang duduk di lantai merajut bayon (pandan) untuk dijadikan sebuah Tandok. Syaiful Yatim, seorang pelukis mantan Guru Seni Rupa SMAN 3 Jember yang memilih menghabiskan hidupnya di Kota Medan, Sumatera Utara, “Apa lagi ya melukislah,” tuturnya.

Lukisan hasil sapuan jari jemarinya itu kini diserahkan kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provsu, Dr Hj Wan Hidayati dan Kepala Museum Negeri Sumut Martina SH, Senin 8 Julu 2019 di Hotel Grand Aston Medan. “Ini diharapkan menjadi langkah awal hubungan dan perhatian Pemprovsu untuk mengeksplorasi kebudayaan dan seni Sumatera Utara melalui seni lukis,” harap Syaiful Yatim.

Yatim yang cukup dikenal di Sumatera Utara, sebagian besar naturalis. Dia pun kembali menjelaskan soal anyaman Tandok yang digambarkan dalam karya lukisnya. Menurutnya, Tandok tidak hanya dimaknai sebuah barang hantaran atau wadah yang terbuat dari anyaman bayon (pandan).

Yatim Menggeluti Seni Lukis

Bukan juga sebuah barang ekonomis yang bisa menghasilkan rupiah. Namun, bagi etnis Batak, Tandok sangatlah sakral dan digunakan saat upacara adat seperti pernikahan, lahiran hingga upacara kematian.

“Artinya yang terpenting ada nilai-nilai, di antaranya kebudayaan dan kesakralan yang tersimpan hingga harus perlu dilestarikan,” jelas Yatim. Dia merinci, pada umumnya anyaman Tandok itu juga dijadikan wadah atau tempat beras/padi yang dihantar sebagai persembahan.

“Umumnya, kaum ibu-ibu yang mengusung Tandok di semua acara adat dan seremonial,” ungkap Yatim. Selain tempat beras/padi, juga digunakan untuk tempat nasi, yang bagi etnis Suku Karo biasadisebut Sumpit. “Ukurannya sangat bervariasi dari sekitar 30 cm, 1 meter sampai 3 meter, yang disebut juga Tandok raksasa,” urainya.

Selain itu, menjawab pertanyaan bagaimana dirinya menggeluti seni lukis di Sumatera Utara. Dirinya tertantang menjadi pelukis baik di kanvas maupun tembok alias mural dalam mengeksplorasi kebudayaan dan pariwisata di Sumatera Utara.

“Sumut ini kaya akan segalanya. Kita tinggal dan menetap di Sumut seakan berada sepuluh persen dalam surga,” tukas Yatim. Dan yang perlu digarisbawahi lagi, sambung Yatim, eksplorasi kehidupan sosial, budaya dan pariwisata di Sumut melalui lukisan bisa berdampak pada majunya pertumbuhan pariwisata di Provinsi Sumatera Utara.

Monolog dan Biola

“Kita berharap, hubungan dan perhatian pemerintah dengan para pelukis semakin kuat. Selain wadah promosi melalui gambaran yang menarik perhatian, bisa juga sebagai alat media promosi ketika hasil lukisan di pajang di setiap even-even internasional,” tegasnya.

Harapan senada juga disampaikan Kadisbudpar Sumut DR Wan Hidayati. Hidayati yang juga seniman teater itu sengaja meminta lukisan karya Syaiful Yatim tersebut menjadi salahsatu inspirasinya dalam sebuah buku Geopark Kaldera Toba.

“Saya melihat, di balik keindahan alam Danau Toba tersimpan suatu nilai perjuangan seorang ibu etnis Batak yang berjuang menghasilkan sebuah karya anyaman Tandok. Lukisan karya Syaiful Yatim ini bisa menginspirasi khususnya soal nilai-nilai yang terkandung pada Danau Toba,” kata Hidayati.

Jadi, lanjut Hidayati yang masih aktif dalam seni monolog serta musik biola itu, dirinya tidak salah mengakui bahwa sebutan ‘inong/inang‘ ‘(panggilan untuk ibu, red) sangat sakral serta mengandung nilai perjuangan. *Inc-04