No.14

“Tidak Tin, yang penting kita makan bersama-sama siang ini. Kalau perlu kupanggil dokter Muslim kita ajak makan bersama,…..”

Intainews.com:PIDA mengantarkan dokter Muslim ke mobilnya halaman depan. Dokter masih mengatakan agar Kartini makan nasi, sayur dan buah. Sebetulnya Tini tidak sakit, hanya beban pikirannya yang berat membuat dia tidak enak untuk makan. Dokter tidak bertanya, hanya si Pida yang mengatakan sahabatnya Tini sedang patah hati. Sejak orang yang dicintainya menikah, dia jadi kehilangan gairah hidup. Dokter mengguk-anggukkan kepalanya perlahan. “Dunia tidak sebesar daun kelor, untuk dia yang keren seperti itu tidak sedikit lelaki yang suka dengan dirinya,..” kata dokter Muslim sambil menghidupkan mesin mobil dan berlalu. Pida mengucapkan terimakasih .
Tiba di kos Tini, Pida memukul paha Lies.

“Gila Lies. Ganteng dan baik orangnya, dokter lagi. Dia kirim salam buat Tini, semoga lekas sembuh katanya.” Pida mengarang supaya Tin senang.

“Dokter itu bagianku,…” kata si Lies

“Tidak bisa, bagianku karena kau sudah punya pacar. Aku yang belum punya.”

“Ah pacarku itu mau kupecat. Nggak enak orangnya, kapal keruk,….habis uangku dibuatnya. Ganteng, tapi jahat buat apa,…”

“Dokter bagianku, tadi dia……ah…” Pida mengarang sambil mempraktikkan gaya kemesraan,…”

“Aku tak percaya sama si Pida sepuluh yang dikatakannya, sebelas yang salah,…” kata Lies sengaja bercanda biar ribut, supaya Tini bisa tertawa.

Namun Tini hanya tersenyum kecil saja. Obat dari doter Muslim sudah dimakan. Teh manis buatan Lies sudah diminum, namun badannya sangat lemah. Tini tidak menyebut kepada dua teman yang sudah seperti saudara kandung. Sesungguhnya sudah tiga hari dia tidak makan.

“Tin bilang saja apa maumu sekarang? Kami belikan nasi Padang atau biar aku sama Pida yang masak. Mau makan apa, sayur bening bayam, goreng ikan gembung dan sambal belacan.” Mendengar kuliner itu Tini mengguk-angguk pelan.

“Tapi jangan sampai merepotkan kalian.”

“Tidak. Tidak Tin, yang penting kita makan bersama-sama siang ini. Kalau perlu kupanggil dokter Muslim kita ajak makan bersama,…..”

Tin tersenyum mendengar candaan Lies. Pida tertawa. Lalu Lies pergi belanja ke warung di depan rumahnya. Tini selama ini tinggal di sebelah rumah Lies yang dulu ditempati abangnya. Sesudah abangnya menikah pindah ke rumah sendiri. Lies dan Mamanya yang menyuruh Tini menempatinya gratis. Namun Tin Tidak mau, dia tetap membayar seharga rumah kost. Mama Lies pun menerimanya. *Bersambung