No.13

“Tidurlah yang nyenyak tidak usah mengembangkan imajinasi. Hiduplah realistis.”

Intainews.com:PAGI saat burung-burung peliharaan tetangga di sebelah kosnya bernyanyi riang menyambut pagi yang indah. Namun di telinga Kartini, seperti tidak terdengar dan merasuk ke hatinya. Dia berjalan terhuyung di atas kaki yang lemah. Saat membukakan pintu untuk Pida dan Lies sahabat baiknya. hampir ia terjerembab, untunglah cepat Lies menangkap tubuh sahabatnya yang sedang sakit. Dua hari ini mulutnya tidak selera untuk makan, begitu kata Tini lemah.

“Hei, jangan dianggap enteng sakitmu ini Tin. Dokter yang tahu apa sakitmu. Pida cuma menduga-duga, katanya asam lambung…”

“Ah, biarlah aku istirahat saja,…”

“Tidak, tidak begitu, harus berobat. Biar si Pida memanggilkan dokter untuk datang ke sini,…”

Mendengar ucapan Lies, langsung Pida bergerak, seperti melompat memanggil dokter yang dimaksud sahabatnya itu. Walaupun Tin terus saja mengatakan tidak usah.

“Dokter Puskesmas yang baru ini, baik dan siap dipanggil ke rumah kalau dibutuhkan. Masih lajang dan ganteng,” ujar Lies sekaligus menghibur teman yang sakit. Tin seperti tidak bereaksi, walaupun hatinya ingin tahu seberapa gantengnya dokter itu. Apakah ganteng seperti Ustadz Daham?

“Kubuatkan teh manis panas ya. Dari tadi pasti hanya minum air mineral terus. Sudah sarapan Tin?”

“Aku tak selera makan, aku hanya ingin tidur saja.”

“Nanti, kalau sudah diperiksa dokter, tidurlah. Sekarang jangan tidur,…” Lies mengingatkan.

Lies kemudian membuat teh manis untuk Tin dan dokter. Pida masuk dan mengatakan dokter sudah datang.

“Naik apa Pid, cepat sekali.”

“Naik mobil dokterlah. Kebetulan Puskesmas sedang sepi,” saat Pida menjelaskan, dokter muncul di ambang pintu. Lies mempersilakan dokter, masuk. Tidak ada basa-basi, dokter langsung memeriksa Tini. Lies meletakkan minuman untuk dokter di atas meja. Lies dan Pida memperhatikan Tini yang sedang diperiksa.

“Sakitnya ini dibuat sendiri,” kata dokter dengan senyum.

“Kenapa dokter?” Pida bertanya.

“Perutnya kosong,….itu artinya tidak makan,” kata dokter yang namanya Muslimin. Tini mengaku, dia sudah tiga hari tak selera makan. Namun Tini menutupi, belakangan ini dia tidak bisa tidur dan tidak selera makan. Pikirannya terus membayangkan Ustadz Daham setelah habis seluruh isi buku karangannya dibaca.

Dokter menuliskan resep obat untuk segera dimakan.

“Jangan lupa makan dan minum jus buah. Tidurlah yang nyenyak tidak usah mengembangkan imajinasi. Hiduplah realistis.” * Bersambung