No.12

Banyak buku dibacanya, guru-guru mengajinya memberi wawasan kepada dirinya, tidaklah salah kalau Ustad Daham saat ini menerima dirinya,..

Intainews.com:KINI Haji Sardan merasa gerah dan berkeringat. Padahal angin laut begitu kencang masuk dari kisi-kisi jendela dan ventilasi ke dalam kamar. Ingin memarahi istrinya, namun enggan karena baru saja istrinya baikan. Ingin Haji Sardan melupakan dirinya akan dimarahi Ustadz Daham, karena istrinya menyinggung Kartini kepada Ana. Oh matanya jadi tidak mau dipicingkan. Ketika berbalik badan, dia melihat istrinya sudah tertidur pulas.

Sementara di rumah Ustadz Daham, suami istri belum juga tidur. Ana masih terus mencecar dengan lembut dan suara manja kepada suaminya soal hubungannya dengan gadis Tini. Tini jadi percaya hubungan Tini yang menjadi pacarnya Ustadz kini terus berlanjut.

“Bang,….betul kan,…abang tidak berhubungan dengan si Tini itu?”

“Tidak Ana. Kapan Abang punya waktu, meninggalkan Ana sendirian? Setiap detik dan waktu yang berputar dari ke hari kita tetap berdua.”

“Waktu Ana belum keluar dari PNS?”

“Abang menulis buku, dan tetap ada almarhumah Mama di rumah.” Ustadz terus meyakinkan istrinya agar tidak terus-terusan berburuk sangka. Ana tersenyum dan menarik tubuh suaminya ke dalam pelukannya, walaupun hatinya gundah gulana.

“Abang sayang kan, sama Ana?”

“Tentu sayang. Kalau tidak sayang buat apa Abang di sini, lebih baik Abang bergabung dengan kawan-kawan sealumni Kairo di Jawa Timur.”

”Bang, Ana tidak mau ada wanita lain dalam hati Abang, kecuali Ana dan anak kita,…”

“Apa yang Ana omongkan berulang-ulang soal itu saja, bukti apa lagi yang Ana mau dari Abang?”

“Sudahlah Bang, Ana minta maaf. Yuk kita tidur…”

Selanjutnya keduanya tertidur lewat tengah malam, sudah hampir dini hari. Di tempat lain, Haji Sardan juga baru bisa memicingkan mata pukul 02.00 WIB.

Ketika kedua pasang insan ini tertidur lelap, Kartini yang jadi perbincangan dua rumahtangga ini masih duduk di sajadah. Mengerjakan shalat sunah, membaca Alquran dan berdoa berjam-jam lamanya. Kartini berdoa agar Tuhan mengubah takdir dirinya, kalau memang takdir yang dialaminya bagian dari takdir, agar dirinya dipertemukan Ustadz Daham. Batinnya sudah terlalu lelah.

Kartini akan menerima apa adanya Ustadz Daham saat ini, agar hatinya terobati. Sakit hatinya akan hilang jika sudah bisa hidup bersama dengan Ustadz Daham. Banyak buku dibacanya, guru-guru mengajinya memberi wawasan kepada dirinya, tidaklah salah kalau Ustad Daham saat ini menerima dirinya menjadi istrinya.*Bersambung