No.11

Intainews.com:DI RUMAH Haji Sardan, Bu Haji jauh beda dari beberapa hari lalu yang lebih banyak diam, bersungut-sungut, menolak dan membelakangi suaminya saat Haji Sardan menggodanya. Kini Bu Haji wajahnya sumringah, ingin sekali suaminya bertanya, apa gerangan yang membuat istrinya girang seperti lepas dari penjara. Ah lebih baik diamkan saja dulu. Haji Sardan lebih banyak menunggu.

Nah dia meletakkan kepalanya di ranjang yang spreinya baru diganti, juga sarung bantal dan guling yang dikepitnya terasa wangi.

“Bang,….bang,…”

“Apa Dik, bilanglah,” Kata Haji Sardan yang tahu seperti ada yang ingin disampaikan istrinya.

“Abang tidak marah kan,…?”

“Apa yang harus dimarahkan. Dik kemarahan itu seperti api, pastilah ada asapnya duluan, baru ada apinya. Abang tidak tahu kesalahan Adik untuk bisa membuat Abang marah.”

“Bilanglah,….tidak marah kan,….” Bu Haji berharap dengan kemanjaan, seperti anak kecil,…”

“Iya,….iya Abang tidak marah. Katakan apa yang mau Adik katakan,…”

“Soal si Tini, Adik ceritakan sama Ana, nampaknya Abang punya hubungan sama anak gadis itu,…”

Astagfirullah,….” Haji Sardan sangat terkejut sehingga bangkit dan duduk.”

“Jadi apa kata Ana?”

“Kalau Pak Haji Sardan tidaklah mungkin. Kalaupun mereka ada hubungan, si Tini itu sudah jadi anak angkat kalian. Begitu kata si Ana. Tapi, kalau si Tini mau dengan Ustadz Daham itu bisa terjadi,….katanya lagi. Kisah lama bersemi kembali,…”

Haji Sardan masih memegang kepalanya, tanpa suara.

“Abang marah?”

“Adik tau, apa yang terjadi antara Ustadz dan Ana? Apalagi kata Adik, Ana yang mengatakan, kemungkinan Tini berhubungan dengan Ustadz Daham bisa terjadi. Hilang kecemburuan Adik sama abang, berganti Ana cemburu dengan Ustadz Daham. Bagaimana ini.”

Bu Haji tersenyum menggeserkan badannya agar kepalanya bisa berbantal paha suaminya.

“Maaflah Bang.”

Haji Sardan tidak menjawab. Dia memikirkan apa jawabannya ketika besok Ustadz bertanya soal ini. Pastilah Ustadz marah dan mengatakan Haji Sardan tidak bisa dipercaya. Ah! Sambil menidurkan badannya miring, tangannya memukul sendiri mulutnya, kenapa dia ceritakann soal Tini dengan Daham, kepada istrinya. Malam pun berjalan terasa gerah, hati Haji Sardan panas dan seperti ingin memuntahkan amaarahnya, mengeluarkan bara dari mulutnya.* Bersambung