No.10

Soal itu sudah tamat bersamaan Abang memilih Ana. Tidak ada siapa-siapa wanita manapun, kecuali Ana.

Intainews.com:HAJI Sardan memanfaatkan kesempatan bisa bicara buka-bukaan dengan Ustadz Daham. Bagi Haji Sardan, gadis Tini masih ada di hati Ustadz Daham, sekalipun dari kasat mata Ustadz sangat menyayangi dan mencintai Ana yang kecantikannya tidak bisa mengimbangi kecantikan Tini yang wajah dan tubuhnya bagai gadis Palestina. Setelah beberapa saat keduanya terdiam, tiba-tiba Ustadz Daham bicara.

“Tini itu adalah gadis yang pertamakali membuat jiwa saya berdesir. Sebelumnya begitu banyak gadis yang saya kenal, biasa saja,…”

“Maksud Ustadz bagaima? Apa yang harus saya lakukan Ustadz dengan Tini,..”

“Tidak, tidak ada. Biarlah cuma bayang-bayangnya yang ada di hati ini. Katakan dengan Tini, baik-baiklah kuliah dan jaga diri sekuat hati supaya tidak terjerumus ke perbuatan yang paling dibenci Tuhan.”

Selanjutnya Ustadz Daham kembali menulis buku. Haji Sardan meneruskan mengepak buku-buku yang harus dikirimkan besok, sesuai daftar yang diberikan Ana. Tidak lama Ana dan Bu Haji sampai di rumah. Bu haji ke dekat Haji Sardan menyerahkan bungkusan jeruk manis. Ana juga menyerahkan yang sama, menyerahkan jeruk manis kepada suaminya. Mereka makan bersama-sama.

“Bang yuk kita pulang,”  Bu Haji.

“Ya, sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi membungkus buku ini, sudah itu kita pulang.”
Ana nibrung, karena omongan Bu Haji  terdengan oleh Ana dan Ustadz Daham.

“Jangan buru-buru pulang. Di sini dulu, biar ada kawan ngobrol.”

Istri Haji Sardan tetap juga mau pulang. Entah apa yang mau disampaikan tidak tahu. Akhirnya mereka pamit, dan besok mulai bekerja lagi mengurus buku-buku dan bersiap mencetak buku baru.

Setelah Haji Sardan dan Bu Haji menghilang, Ana menggoda suaminya, mendekapnya dari belakang. Suaminya tidak marah, lalu membalas pelukan itu hingga keduanya merasa bergelora. Saat keduanya melepaskan pelukan, Ana mengatakan apa yang diceritakan Bu Haji, tentang suaminya jatuh hati dengan wanita lain.

“Jangan lekas percaya Na, barangkali itu hanya bayan-bayang yang mengganggu pikiran Bu Haji saja, karena suaminya sibuk mengurus buku-buku kita, dan pulangnya malam.”

“Pak Haji Sardan jatuh hati sama si Tini.” Mendengar nama Tini itu tersirap darah Ustadz, membuat dia terdiam.

“Sama si Tini itu bang, yang pernah jadi pacar Abang dulu,…” Ana bicara terang-terangan apa yang diceritakan Bu Haji. Sampai Bu Haji cemburu dan tidak cakapan. Baru cakapan waktu Bunda meninggal.

Bagi Ustadz Daham, ia harus sangat hati-hati, yang bisa berbalik tudingan kepada dirinya.

“Yang penting bukan Abang. Sebagai wanita Ana takut juga.” Ana berkata begitu sambil memeluk pinggang suaminya.

“Eh. Ana ngomong apa Dik. Soal itu sudah tamat bersamaan Abang memilih Ana. Tidak ada siapa-siapa wanita manapun, kecuali Ana yang sekarang sedang mengandung anak kita.” *Bersambung