No.9

Intainews.com:KESEDIHAN menjalar dalam sanubari Ustadz Daham dengan meninggalnya Bunda yang paling dijujung tinggi dihormati dan dituruti segala keinginan dan keputusannya. Sesudah istrinya kehilangan Mama. Kini dirinya kehilangan Bunda. Keduanya mengalirkan air mata, namun bagi Ustadz seberapa besar kesedihan ditahannya agar tidak sampai menggelapar.

Tidak lama di rumah Ana sudah berkumpul dua keluarga. Termasuk Haji Sardan dan istrinya datang. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang menghubungi ambulans, ada pula yang mempesiapkan liang lahat, dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menerima jenazah Bunda.

Pukul 14.WIB keesokan harinya, jenazah Bunda langsung dibawa ke rumah Ana. Disemayamkan tidak lama, pukul 16.00 WIB jenazah dikebumikan. Ucapan turut berdukacita datang dari famili, sahabat dan handai tolan. Ustadz Daham tidak menyangka kalau dirinya telah dikenal banyak orang setelah bukunya laris.

Setelah semingggu berduka, Ustadz Daham memulai kegiatannya lagi, menulis buku. Ana mngatur manajemen Penerbitan buku baru karya teman suaminya sesama alumni Kairo.

“Mudah-mudahan buku teman Abang ini laku keras seperti buku Abang.”

“Ya, insya Allah. Biasa kalau sudah bagus menurut Ana, laku dan menyebarlah buku itu,…”

Kartini yang pernah dipukuli oleh almarhumah Bunda, karena ketahuan berhubungan dengan Ustadz Daham, sudah mendapat kabar. Tini menanggapinya dingin. Baginya, kematian Bunda Ustadz Daham tidak ada pengaruh bagi dirinya, kecuali kalau istri Ustadz Daham yang meninggal. Namun semuanya disimpan dalam-dalam di hatinya.

Kabar meninggalnya Bunda datang dari Haji Sardan yang menyempatkan memberitahu dengan SMS, yang segera dihapus, agar jangan sampai ketahuan dengan istrinya yang mulai baikan dari kecemburuannya dengan Tini. Haji Sardan pun masih merasa berhutang amanah Tini untuk disampaikan kepada Ustadz Daham.

Apakah saat ini yang terbaik menyampaikan salam dari Tini, ketika hanya dirinya dan Ustadz Daham di rumah. Istrinya menemani Ana berbelanja dan ada yang penting untuk dibelinya. Ya! Kapan lagi, sekaranglah. Dan Haji Sardan tdak tahu apakah Ustdaz senang atau tidak mendengar kabar dari Tini. Namun yang namanya amanah disampaikannya.

“Ya,….bagaimana keadaannya sekarang. Sehat kan dia, kurus atau gemuk, karena lebih senang hidup di kota.”

“Badannya kurus, wajahnya tidak berseri. Kalau bicara lidahnya tidak pernah lupa menyebut Ustadz.”

“Sudah saya bayangkan selama ini, tetapi takdir membawa diri ke Ana. Sampaikanlah salam kembali, karena itulah yang bisa,…” Bersambung