No.8

“Bunda meninggal dunia. Jenazahnya baru tiba dari Hong Kong besok pagi,” ungkap Daham tenang.

Intainews.com:HARI ini udara mendung menanti turunnya hujan. Ana dan suaminya menikmati sarapan pagi, roti panggang dioles srikaya. Di luar mendung, di dalam rumah terasa cerah, ceria mereka saling menyunggingkan senyum dan sekali-sekali tertawa. Hari ini libur. Tidak ada aktivitas yang berhubungan dengan buku. Haji Sardan pun di rumah, dia terus menunggu hilang merajuk istrinya. Bagi Haji Sardan ini aneh, sejak menikah, cemburu tidak pernah ada.

Ustadz mengajak istrinya ke kota, ke rumah sakit untuk periksa kandungan Ana, selain itu jalan-jalan untuk menghilangkan ketegangan. Ana setuju dan segera bersiap. Tidak lama keduanya sudah ke luar dari rumah. Kenderaan melaju ke kota. Keduanya tampak mesra dan gembira. Ada canda, ada juga tawa.

“Bang,…siapa nama anak kita nanti Bang?”

“Kalau laki-laki pastilah tidak sama dengan perempun. Nanti tanyakan ke dokter, bayinya lelaki atau perempuan.”

“Menurut Abang laki-laki apa perempuan,…”

“Lelaki dan perempuan sama saja bagi Abang, yang penting sehat dan tidak kurang satu apa pun.”

“Kalau Ana kepingin anak laki-laki, pastilah ganteng seperti ayahnya,” kata Ana,….

“Ya kalau perempuan pastilah cantik seperti ibunya.”

“Ah, kalau seperti Ana tidaklah cantik. Belum pernah ada orang yang mengatakan Ana cantik. Kecuali Abang yang berulang-ulang mengatakan Ana cantik,” tutur Ana

“Nilai kecantikan setiap orang pastilah berbeda. Ditanya ke siapa pun pastilah paling cantik istrinya yang memiliki nilai-nilai tersendiri baginya. Dan nyaman hidup bersamanya.”

“Paling-paling Abang mau bilang, istriku cantik, manis.”

“Pastilah,” tukas Ustadz Daham, sambil tertawa.

“Bagi Abang Ana itu segalanya, cantik jiwanya, manis wajahnya, bagus postur tubuhnya. Cerdas dan berani.”

Tiba-tiba handphone Daham berdering. Ana memperhatikan Raut wajah suaminya yang berubah pucat dan suaranya seperti gemetar. Daham menepikan mobil dan meneruskan bicaranya. Sepertinya ada yang meninggal, kata hati Ana.

“Bang siapa yang meninggal Bang.”

“Bunda meninggal dunia. Jenazahnya baru tiba dari Hong Kong besok pagi,” ungkap Daham tenang.

“Sudah Bang, kita balik saja memberitahu saudara kita, dan menyiapkan segala yang diperlukan.”

“Jenazahnya kita bawa ke rumah Bunda, atau di rumah kita?”

“Di rumah kita saja.”

Daham memberitahu Haji Sardan, seterusnya mengabari sanak familinya. Begitu juga Ana memberitahu familinya dan handai tolan, bahwa mertuanya meninggal dunia. *Bersambung