No.7

Intainews.com:DI KOTA, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya Haji
Sardan kembali menemui Tini untuk mengatakan agar bersabar, karena
belum ada waktu yang cocok dan pas menyampaikan salam Tini kepada
Ustadz Daham. Mereka bertemu di kantin kampus. Tini kembali menyinggung tentang kondisi dirinya, yang merasakan ingin sekali bias bertemu dengan Ustadz Daham.

“Apakah itu memungkinkan Pak Haji?”

“Sebenarnya mungkin saja, sepanjang nyawa masih di badan. Tapi kelemahan
kita sebagai makhluk ciptaan-nya selalu Tidak pernah tahu semenit pun apa yang bakal terjadi pada diri kita.”

“Sesudah saya baca habis isi buku Ustadz Daham, semakin saya yakin
dialah lelaki yang bisa membimbing saya. Menjadi imam supaya saya dapat lurus
mencintai-Nya. Bagaimana Pak Haji?”

“Sayangnya Ustadz Daham sudah berumahtangga, menjadi jauh harapan
kalau kamu tetap harus hidup bersamanya lagi. Kecuali mereka bercerai
atau meninggal dunia, dan kamu menggantikan kedudukan istrinya.”

“Poligami dibenarkan oleh agama, ustadz yang taat dan kajinya sudah
lebih tinggi dari kita ini, Pak Haji pastilah tahu tentang itu.”

“Betul, tetapi di negeri ini hal itu seperti tabu,” kata Haji Sardan meyakinkan Tini.

Tini terdiam, menunduk seakan jauh sekali apa yang dibayangkannya. Kalau
begitu, Tini berpikir ya sudah begini sajalah hidupnya dalam kebersendirian. Kembali ke tekad semula, kalau tidak menikah dengan

Ustadz Daham lebih baik tidak menikah dengan siapapun. Bang Haji terkejut dengan apa yang disebutnya terakhir, sekalipun perlahan seperi berbisik, namun jelas sekali di telinganya.

“Bersabarlah, nanti saya sampaikan salam dari Tini kepada Ustadz Daham.”

Diam-diam Haji Sardan menilai dan mengamati, Tini merupakan ciptaan
Tuhan sebagai gadis cantik hampir sempurna. Tak puas mata memandang, siapa pun ingin menyunting Tini untuk dijadikan teman hidupnya. Tetapi, seperti yang dikatakan
Tini dia tidak menerima siapa pun laki-laki, kecuali Daham. Tidak lama
kemudian Haji Sardan pamit untuk pulang. Tini berpesan.

“Bapak carikan siapapun yang mau membeli tanah dan rumah warisan Ayah.
Supaya saya tidak ke kampung itu lagi, dan bisa digunakan untuk biaya kuliah. Murah pun tidak mengapa Pak Haji,…” Haji Sardan mengangguk dan berlalu. *Bersambung