No-2

Begitu gembiranya suaminya, memeluk erat bersama rasa sayang semakin dalam. “Jangan kuat-kuat bang, kasihan yang di dalam rahim.”

Intainews.com:DI RUMAH Ustaz Daham, ingin rasanya Haji Sardan membisikkan kirim salam Kartini kepada Ustadz Daham, karena hal itu adalah amanah. Tetapi selalu tidak ada waktu yang tepat. Zuliana selama keluar dari PNS dan Mamanya meninggal dunia, benar-benar seperti lepat dengan daun. Tidak mau sedetik pun ada ruang yang membuat dirinya berpisah dengan suaminya.

Apalagi setelah Ustadz Daham membukukan tulisannya, belakangan ini mulai banyak
diundang untuk ceramah agama, diminta pula untuk memberi tausiyah dibanyak tempat. Ana senantiasa mendampingnya. Perlahan-lahan Ustaz Daham mulai dikenal banyak orang. Semuanya diketahui berkat Ana di sampingnya, sehingga Ustadz pun semakin menyayangi istrinya yang setelah diperiksa ke dokter, diketahui sedang hamil. Alhamdulillah. Ana membuktikan sebagai wanita dia subur. Mampu memberi kepada suaminya keturunan.

Daham telah meminta tolong Haji Sardan lebih aktif membantu manajemen penerbitan, supaya istrinya yang sedang hamil muda tidak terlalu banyak bergerak, yang dapat mengganggu ke hamilannya. Sehingga mulai hari ini, Ana lebih banyak membaca karya tulis sahabat suminya se-alumni Kairo. Tulisan religius sahabatnya itu lebih fokus tentang wanita salihah.

Sementara pesanan buku Ustaz Daham cetakan kedua masih terus banjir pesanan. Ini membuat mereka dalam kesibukan. Zuliana, memang wanita luarbiasa. Hamil muda tidak menganggu aktivitasnya. Tidak ada rasa mual muntah dan pusing-pusing.

“Ana, sayang…. kurangi pekerjaan yang menggunakan gerakan dan tenaga, nanti ada
pengaruhya bagi kehamililan bayi kita.”

“Tenang saja Bang. Kalau terasa pusing, lemah dan mual Ana minta tolong
Pak Haji Sardan…”

“Ya, Abang sudah bilang begitu. Bagaimana kalau kita batalkan saja undangan ceramah di televisi pusat di Jakarta itu Ana. Kondisinya tidak mungkin untuk Ana,”…..ucap suaminya.

Ana merapat ke bahu suaminya. Sambil tersenyum dan memggelantung di leher suaminya berkata.

“Dari sekarang sebaiknya kita periksa ke dokter apakah Ana bisa ikut atau tidak.”

“Kalau dokter melarang terbang?”

“Bang, sekarang teknologi semakin canggih, segalanya mempermudah banyak  pekerjaan yang susah. Kita minta ceramah Abang direkam saja di sini. Jadi tidak perlulah kita harus datangan ke stasiun televisi di Jakarta.“

Oh kembali lagi Ana mengungkapkan idenya, yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh suaminya. Begitu gembiranya suaminya, memeluk erat bersama rasa sayang semakin dalam.

“Jangan kuat-kuat bang, kasihan yang di dalam rahim.” Bersambung.