No.1

Intainews.com:PERKAWINAN bagi Ustadz Daham adalah sesuatu yang lebih
menguntungkan bagi kelanjutan perjalanan hidupnya. Baginya, Tuhan begitu ramah
dan penuh kasih kepada dirinya, mengantarkan seorang perempuan baik
hati, cerdas, dan memiliki banyak ide untuk membantu usaha untuk hidup. Zuliana adalah istri yang berani menolak kemapanan untuk sebuah cita-cita kehidupan
lebih lanjut. Ketika tidak sedikit orang-orang di negeri ini bermipi
besar ingin menjadi pegawai negeri, Zuliana malah keluar dari aparatur
sipil negara (ASN).

Memilih hidup menjadi penerbit buku-buku agama setelah melihat ada
sebercik cahaya dari karya tulis suaminya yang pertama kali
diterbitkan. Kini segalanya berjalan baik. Kehadiran Zuliana sebagai
istri bagaikan mengukir dan kembali menyambung tulang rusuk yang
sebelumnya berkurang, oleh Tuhan diciptakan seorang perempuan. Zuliana
telah melengkapinya kembali, dalam hidup suami istri yang bahagia.

Ustadz Daham tidak pernah tahu apa yang menjadi rahasia Zuliana yang
pernah hidup dalam kelam berlumpur dosa-dosa besar yang tercipta dari
hubungannya dengan seorang lelaki yang memberinya banyak uang dan
harta, dalam kehidupannya yang pahit dan direndahkan sebagaimana zaman
zahliyah. Belakangan Mama yang tahu rahasia itu, beberapa saat sebelum
meninggal dunia. Tinggal adik Mama yang dipanggilnya Bunde yang tahu
betul cerita busuk Zuliana, menjadi gundik dan seperti pelacur.

Apakah pelacur sekalipun tidak bisa baik? Dan boleh hidup dalam keadaan
baik-baik? Zuliana berjanji dengan dirinya di hadapan Tuhan,
kesempatan dia diterima sebagai istri, membuktikan dirinya adalah wanita baik-baik.
Dari perjalanan kehidupan Ustadz Daham dan istrinya, H Sardan
menyimpan banyak kisah tragedi cinta, antara Kartini yang awalnya
dicintai Ustad Daham, lalu ditepis karena lebih menghormati
Bundanya yang menjodohkan Ustadz Daham dengan Zuliana.

Kemarin, saat mengantarkan buku karya Ustadz Daham ke Prpustakaan Kampus yang
memesan buku itu, dia bertemu dangan Kartini yang sedang kuliah di Sastra
Inggris. Dalam percakapan dengan Haji Sardan, Tini mulanya memuji karya Ustadz
Daham. Lambat laun menceritakan betapa harapan cintanya yang
berantakan seperti dian terhempas ke batu. Tidak ada bagi hatinya
lelaki manapun yang seperti Ustadz Daham terselit di jiwanya. Haji
Sardan mengingatkan, Tini agar tidak terus memikirkan lelaki yang sudah
menjadi suami wanita lain.

“Pak Haji, tidak sedikit pun terdetak saat ini di hati yang hancur ini, untuk
merusak hubungan suami istri orang lain. Bagi hati ini Pak Haji,
seperti tidak ada tempat bagi laki-laki lain,….”

“Sampai kapan?”

“Insya Allah, sampai kututup mata ini,…” kata Kartini bersama airmatanya
yang membasahi pipi dan bibirnya. Bersambung.