No.92

Intainews.com:HARI ini merupakan hari yang melelahkan bagi Zuliana dan
suaminya, melayani peminat buku yang sangat banyak datang menjemput
langsung secara bergantian. Sudah lebih dua ratus buku terjual hingga
sebelum shalat ashar. Haji Sardan pun melaporkan, buku yang dibawanya
tidak bisa diantarkan semuanya sesuai daftar yang diserahkan Zuliana. Karena saat mengantarkan pesanan, ada saja yang mau membeli buku itu
setelah melihat fisiknya.

Menurut Ana, ya sudah berikan saja. Kalau sudah habis segera kembali,
supaya yang belum bisa diantarkan diprioritaskan besok. Haji Sardan
membawa dua ratus buku, dan habis semua. Sementara Ana dan suaminya
sudah membungkus duaratus buku untuk kota Jakarta, Aceh dan beberapa
kota-kota lainnya.

“Jadi buku kita sudah habis tujuhratus buku termasuk yang kemarin
orang datang ke sini Bang. Praktis tinggal tak sampai tiga ratus buku
termasuk beberapa yang gratis. Antaralain, Mama, Bunda dan Haji
Sardan.”

“Maksud Adik bagaimana?” tanya Ustadz Daham sambil menggeliatkan
badannya mengusir rasa letih bungkuk dan berdiri menghitung dan
membungkus buku-buku.

“Kita hitung dulu uang yang masuk. Baru kita pikirkan apakah kita
mulai mencetak ulang. Nah, ini hasilnya Bang sambil menunjukkan yang
tercatat dikalkulator handphonenya. Dan ini biaya cetak yang kita
bayar,…”

“Wah banyak betul untungnya Ana,….”

“Ya belum termasuk yang sisa ini,…”

“Kalau begitu bagaimana baiknya Na,….”

“Cetak ulang,” putus Ana tanpa ragu.

“Baiklah,…besok kita ke kota memesan cetak lagi.”

“Buat apa kita harus ke Kota Bang, sementara di sini kita sibuk. Biar
Ana hubungi dan pesan berapa eks mau dicetak ulang Bang?”

“Seribu eksemplar saja,….”

“Dua ribu eks, supaya tidak berulang-ulang. Yakin Bang ini buku laku,
jadi tak perlu takut. Tak akan rugi kita, kalau perlu naikkan harganya.”

“Oh, jangan Ana sayang, kita berdakwah juga,…” tutur suaminya.

Haji Sardan tetap di tempat, memberi peluang Ana Mandi. Usai Ana mandi Haji Sardan bersama Ustadz Daham ke masjid. Ana menutup pintu dan shalat maghrib, bersujud dan kembali menengadahkan tangan berterimakasih kepada Allah Swt dengan apa yang mereka hasilkan hari ini. Usai shalat maghrib, Ana mengatakan kepada
suaminya dia tidak sempat masak. Dan Mama sore baru pulang.

“Sudah yuk kita makan di luar saja. Pak haji terpaksa mandi sesudah
makan,…” kata Daham. Tidak jadi masalah, tetapi ia menelpon Bu Haji
istrinya, mau dibawakan makanan apa, mereka mau makan direstoran. Ana memberitahu Mamanya. *Bersambung.