No.91

Intainews.com:MAMA bilang dengan anaknya, Ana sebentar lagi dia mau ke rumah adiknya. Mama mengatakan tidak usah diantarkan, kalian sedang sibuk. Ana mengerti Mama pastilah tidak sabar untuk segera memberikan buku kepada Bunde. Karena Mama sering menceritakan kepada Bunde tentang isi buku ‘LA’, membuat Bunde bolak-balik bertanya kepada Mama, apakah sudah siap
dicetak buku itu. Kenapa belum diantarkan.

Kini di rumah Tinggallah Ana berdua dengan suaminya. Suaminya membungkus buku-buku yang disebut Ana ada yang dibungkus per sepuluh eks buku tiap bungkusnya dan
ada juga yang perlima eks buku tiap bungkusnya, untuk memudahkan melayani pembeli. Ana sudah menhitung permintaan yang di kota ini untuk diantarkan Haji Sardan yang sebentar lagi datang.

Kata suaminya, ongkos kirim yang diberikan pembeli berikan semuanya kepada Haji Sardan yang mengantarkan buku-buku itu.

“Iya,…iya Bang, jangan takutlah pasti Ana bayarkan sesuai permintaan Abang. Tapi Abang tulis di buku ini, tanda salah satu istri salihah adalah menuruti kata-kata suami.”

“Luar biasa istriku,…” Begitu kata Ustadz Daham sambil mendekat ke Ana, memeluk dan menciumi istrinya bersama gelora.

“Ih,…ih…Bang, geli,…” Ana menggeliat-geliat. Ini lagi kerja Bang,…mau selesai atau tidak ini,…” Suaminya melepaskan pelukannya.

“Tapi katanya, tadi malam besok. Itu kan artinya hari ini,…”

“Ya,.. nanti malamlah, bukan sekarang he,….” kata Ana sambil mencubit lengan suaminya. Lalu Ana merasa ini momentum untuk mengatakan niatnya untuk keluar dari pegawai negeri. Suasananya sedang senang dan gembira.

Ana berpindah duduk ke dekat suaminya. Dia mulai menceritakan niatnya. Namun tidak seratus persen yang diceritakannya kepada Mama. Tentu, soal atasannya ditutup rapat-rapat. Suaminya diam, tidak menjawab sedikitpun, mungkin berfikir. Ana pun diam, dia takut kalau suaminya marah, atau melarang. Namun beberapa saat kemudian, seperti mau berkata.

“Kalau hati abang ditanya sebaiknya jangan. Wanita berkarir itu bagus juga. Tetapi kalau Ana sudah menimbangkan hal-hal mana yang lebih baik, Abang serahkan dengan Ana. Apalagi sudah berjanji sebelumnya.”

Ana nampak bergembira. Dipeknya suaminya, sambil mengatakan,…

“Terimakasih Bang,..itu artinya duapuluh empat jam setiap hari kita terus berdua. Kalau memang bagus penjualan buku ini, kenapa tidak kita jadikan bisnis Bang.”

“Bagus juga itu. Tapi menulis atau mengarang, pastilah ada bosannya atau
kehabisan ide.” Begitu selesai suaminya berhenti bicara, langsung
dijawab Ana.

“Ah, mudah itu Bang. Biar Ana buat di internet kita membutuhkan cerita-cerita bernafaskan agama Islam untuk dicetak. Mau dibayar langsung ceritanya yang cocok untuk kita cetak, boleh. Atau mau bagi hasil, terserah. Jadi Ana buat PT untuk penerbitan buku-buku agama, untuk anak-anak, remaja dan orang dewasa. Ana pun coba-coba juga menulis, Abanglah yang
mengeditnya,….”

“Masya Allah,…luar biasa, ide Ana cemerlang dan sangat cerdas, ck..ck…ck…dan Abang bisa hubungi teman-teman satu alumni untuk mengirim tulisan.” * Bersambung