No.90

Intainews.com:MALAMNYA Tini bermimpi, didatangi kuda putih yang gagah.
Kuda itu berlari menuju ke dirinya kencang sekali, dia tidak dapat
melihat siapa penunggangnya, karena debu yang berkobar dari kaki-kaki
kuda menutupinya. Hampir saja dia menjerit sekuat hati saat kuda putih
itu semakin dekat. Wow, ketika dia menutup mata pasrah diri untuk
ditabrak kuda yang begitu kencang, ternyata sekali lompatan kuda itu
meliwati kepalanya.

Ketika dia membuka telapak tangannya yang menutup wajahnya, dia melihat
kuda dan penunggangnya samar-sama seperti menunggunya. Kali ini kuda
itu berjalan lambat, lambat sekali hingga ke dekatnya. Tidak ada debu
berterbangan lagi sehingga samar-samar dan menjadi jelas, pangeran berjubah
itu adalah Ustadz Daham. Dia sangat tampan mengenakan jubah
putih, semakin mendekat. Tini tidak bereaksi dengan ajakan tangannya itu, karena mata kepalanya sendiri meliat lelaki itu sudah menjadi milik wanita lain.

Karena tidak mendapat respon, lelaki berkuda putih yang adalah Ustadz Daham
meninggalkan dirinya. Begitu terbangun sudah trahim di masjid menjelang subuh.
Apa makna mimpi itu? Dia bertanya dengan dirinya sendiri. Apakah ini bunga-bunga kalbu dalam tidur, karena sejak Ustadz Daham menikah, ia menetapkan cintanya yang pernah ada, dalam dirinya untuk Ustadz dijadikan cinta  kalbu.

Allah Swt tidak menjodohkan dirinya dengan Ustadz tentulah ada rahasia di balik itu yang dia tidak tahu. Namun dia sangat yakiin Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Tetapi, tini belum melihat kebaikan bagi dirinya yang gagal mencintai Ustadz.

Syukurlah,…mungkin Allah menunjukkan yang terbaik bagi Ustadz lebih
dulu. Faktanya dia mampu membuat buku sebaik ini didampinya istrinya.
Tini melepaskan buku Ustadz yang ada di dadanya, untuk mengerjakan
shalat subuh.

Di tempat tinggal Ustadz Daham dan Zuliana, suami istri yang bahagia
ini baru saja shalat subuh, berzikir dan berdoa. Saat kembali Ana
menyalakan handphone-nya, terlihat semakin banyak orang yang memesan
buku berjudul ‘LA’. Ana menujukkan pesanan itu saat suaminya baru
saja menyalakan laptop untuk meneruskan mengarang untuk buku yang
kedua.

“Bagaimana menurut Abang?”

“Ini kan berkah dari Allah yang harus kita syukuri Na.”

“Ya, tentu Bang. Maksugdnya Ana belum bisa masuk kantor. Kita masih harus
mengurus permintaan buku ini. Lagi pula,….”  Ana tidak meneruskan ucapannya, membuat suaminya tanda tanya.

“Ada apa sebenarnya dinda Ana.”

“Nantilah Ana ceritakan. Ana mau menyiapkan sarapan.”

Saat Ana ke dapur untuk menyiapkan roti bakar kesukaan suaminya, sudah
dikerjakan oleh Mama.

“Sudah, biar Mama siapkan sarapan. Bersiap-siaplah masuk kerja,” tukas Mama.

“Iya Ma, tapi banyak yang Ana kerjakan bantu Abang, jadi Ana belum bisa masuk kerja.”

“Nanti kamu dipecat Na. Dulu ayahmu susah payah memasukkan kamu ke
pegawai negeri dan uang kami hampir seratus juta kami keluarkan untuk bisa ajadi pegawai negeri.”

“Sebetulnya Ma, Ana sudah tidak nyaman di pegawai negeri itu. Banyak yang
tidak cocok dengan hati nurani. Termasuk atasan Ana yang memperlakukan Ana
seperti pelacur. Kalau Ana menolak dicarinya jalan supaya dikeluarkan
dari pegawai negeri. Korupsi jalan terus. Sekarang, Ana sudah menikah,
Ana berjanji kalau sudah bersuami, berhenti saja dari
pegawai negeri. Selanjutnya lillahi taala mengabdi pada suami. Ana
merasa Suami Ana baik dan bertanggungjawab,” begitu cerita Ana kepada Mama. Mamanya mendengarkan dengan tekun sambil tangannya terus bekerja
menyiapkan sarapan.

“Sudah, bawa ini ke meja makan, mandilah dan sarapan. Coba ceritakan
alasanmu sama suamimu. Dia yang bertanggungjawab untuk mu Ana. Mama
paling-paling cuma memberi saran.” Ana kembali ke kamar di mana suaminya masih mengarang buku kedua.

“Oh sudah mandi Abang, maaf Abang ambil baju sendiri,” kata Ana menciumi bahu suaminya.

“Sarapan sudah siap Bang, kalau mau sarapan duluan. Ana mau mandi dulu.”

“Mandilah. Biar sama-sama sarapan.” *Bersambung