No. 89

Buku ini menjadi sangat perlu bagi Tini sebagai pedoman hidup beragama. Juga bagi orang-orang lain di luar sana.

Intainews.com:SEHARIAN penuh Zuliana dan suaminya sibuk mengurusi buku-buku yang baru siap cetak. Sampai menjelang maghrib masih ada saja yang datang langsung untuk membeli buku berjudul ‘LA’ yang ditulis oleh Ustadz Daham. Diam-diam mertuanya mengakui, hebat menantunya ini. Zuliana juga berulang-ulang menyanjung dan memuji suaminya. Berulang-ulang dia mengecup dan
memeluk suaminya, tanda bangga dan kasih sayang. Suaminya juga memuji kecekatan istrinya memenej buku karangannya agar segera sampai ke pembaca. Zuliana berjasa mendorong dirinya unuk segera menyelesaikan penulisan buku itu. Dan Ana tidak ragu-ragu membiayai ongkos cetak
jutaan rupiah.

“Terimakasih istriku sayang,…”

“Ana juga berterimakasih kepada Abang dan bersyukur kepada Allah telah
memberikan suami yang terbaik dijagat raya ini untuk Ana yang banyak
kekurangannya soal agama.” Begitu kata Zuliana sam memeluk suaminya, tanpa disadari menitik air mata haru di dada suaminya. Ustadz Daham mengusap-usap ubun-ubun kepala istrinya dengan penuh kasih. Menghapus air mata yang jatuh di pipi dan bibir dengan lembut. Perempuan yang dicintainya ini masih larut dengan hatinya yang haru biru. Tidak menyangka Tuhan memberi lelaki yang baik dan pintar mendampingi hidupnya, kata hatinya paling dalam. Untuk menghilangkan rasa haru yang dalam, suaminya membisikkan ke telinga Ana.

“Coba Abang lihat tulisan yang Ana propagandakan sampai begitu heboh warganet jadinya,..” kata suaminya. Ana lebih merapatkan badannya ke dada suaminya
supaya bisa membaca apa yang dibuat di handphone-nya. Suaminya membaca
tulisan Ana. Dan mengangguk-angguk pelan. Tidak percuma dia anak komunikasi.

“Luar biasa Ana-ku…,”

“Abanglah yang luar biasa menuliskannya,…”

“Abang merasa biasa saja menulis buku itu. Tidak ada beban, semua dari hasil pengalaman pendidikan agama Islam yang Abang ikuti dari Gontor sampai Kairo.”

“Kadang-kadang ya begitu Bang, bagi kita biasa saja, tapi sama orang lain bisa
luar biasa.” Lalu Ana menunjukkan orang-orang baru yang memesan buku
itu.

“Nih Abang liat, berapa orang yang mau mengambil buku ke rumah kita ini. Dan hitung, berapa banyak minta dikirimkan besok. Berapa orang yang minta segera dikirim ke Aceh dan Jakarta, harga buku ditambah ongkos kirim segera ditransfer. Mereka terpanggil untuk segera dapat membacanya.”

Suaminya menghitung dalam hati, dan tersenyum. Banyak juga yang harus
dikerjakannya besok.

“Yuk kita tidur, besok banyak yang mau kita kerjakan,” ujar meletakkan telapak tangannya di pinggang suaminya.

“Abang belum bisa tidur,….”

“Ah,…Ana tau apa maunya Abang,…tapi Ana letih Bang besok saja,…”

“Ya sudah. Kita tidur,” kata suaminya lalu mendekap kekasihnya. Keduanya
tidur saling berpelukan.

Di luar sepengtahuan mereka, oleh beberapa orang yang sudah memiliki buku itu menjadi sebuah diskusi. Menjadi bahan bicaraan baik laki-laki maupun perempuan. Dari mulai anak-anak muda sampai orang tua menyukai buku itu. Bahkan kelompok ibu-ibu di sebuah masjid di kota, sudah pula memutuskan dalam waktu dekat akan mengundang Ustadz Daham penulis buku ‘LA’ untuk berceramah. Apalagi penulisnya ganteng dan masih muda, kata sebagian ibu-ibu yang belum tahu Ustadz sudah menikah.

Tidak terkecuali Tini yang membaca paling awal buku itu mengagumi isinya, bahasanya menggunakan kalimat pendek hingga mudah dimengerti. Dan materi yang dikupas, penting dan perlu. Buku ini menjadi sangat perlu baginya sebagai pedoman hidup beragama. Juga bagi orang-orang lain di luar sana, kata hatinya. * Bersambung.