No.88

“Untuk ilmu pengetahuan dengan buku setebal ini sebenarnya tidak mahal.”

Intainews.com:Pagi ini, usai shalat subuh, Zuliana langsung mengaktifkan handphonenya. Ternyata banyak sekali SMS dan kontak dari masyarakat yang ingin tahu di toko buku mana saja buku agama berjul ‘LA’ itu ada. Tidak sedikit pula yang meminta nomor rekening Ana agar mereka bisa mentransfer uang membeli buku itu dan berapa harga jual per bukunya. Banyak juga yang minta diantarkan ke tempatnya dengan harga berapa. Semua itu ditunjukkan kepada suaminya yang spontan mengucapkan alhamdulillah.

“Kalau begitu banyak, bagaimana mengirimkannya Ana?”

“Terserah kita Bang, mau pakai jasa Ojek atau memberi honor orang yang mau mengantarkannya.”

“Kalau begitu, minta bantuan Haji Sardan, kita berikan honornya.”

“Bagus Bang, Ana setuju lumayan untuk uang masuk Abah Sardan.”

“Yuk kita sarapan dulu, jangan sampai lupa. Dan Ana harus masuk kerja.”

“Ah, Ana bisa permisi Bang. Kita selesaikan dulu buku ini, Ana buat daftar permintaan untuk dikirim langsung. Buat daftar toko buku yang ada di kota. Kita masukkan di mana ada toko buku. Pustaka-pustaka di kampus-kampus atau toko buku, kita sebar semua. Oh ya, harga bukunya berapa Bang yang kita sepakati. Harga toko buku berapa, harga beli langsung ikut ongkos kirim berapa. Kalau diambil di sini berapa pula.” Ana bicara sambil menyediakan sarapan pagi dan susu untuk suaminya. Tiba-tiba Mama nibrung.

“Jangan kalian lupa, untuk Mama dua buku biar Mama baca-baca dan satu untuk Bundemu Na,..”

“Ya, Ma….Mama mbil saja pilih yang bagus,” kata Ustadz Daham.

“Sudah Mama lihat tadi, semua bagus. Mama minta sekarang, jangan sempat habis nanti…”

“Kalau habis, kita cetak lagi Ma….”

Menantu Mama senyum-senyum simpul melihat ada harapan bukunya laris
manis. Dan kehadiran bukunya membuat keluarga ini bersemangat. Sambil menyuap nasi goreng, Ana mengingatkan suaminya.

“Bang kirimlah dua buku untuk Bunda. Biar dibaca-baca dan lepas dan bisa jadi pelepas rindunya pada kita, dan jadi kebanggaannya.”

“Ya nanti kita kirim.”

Benar saja Ana tidak semangat masuk kerja hari ini. Mulai dia mengambil laptopnya dan mencatat nama-nama permintaan untuk dikirim. Daftar toko buka kolom penualan kontan, toko buku yang konsinasi. Melihat begitu sibuknya Ana, suaminya bertanya, apa yang bisa dibantunya. Ana menyanggah, sebetulnya Abang duduk manis saja. Dikatakannya suaminya sudah cukup mengarang saja. Tetapi suaminya merasa risih, mengatakan badannya juga perlu ada gerakan. Mama juga tidak mau
ketinggalan. Dirinya minta diberi tugas. Ana meminta suaminya memilah-milah buku, ada tumpukan sepuluh buku, ada yang lima buku. Mama nanti bagian membungkus. Semua akur, bertiga mereka bekerjasama.

Ustadz Daham senang melihat kekompakan ini. Lewat zuhur, sudah ada pula yang datang, untuk membeli langsung, setelah Ana menyebutkan alamat rumahnya melalui handphone.

Nah,… kata Ana,..Mama yang melayani pembeli. Ana pun berbisik kembali bertanya, berapa harga per buku kepada suaminya. Ustadz menyerahkan kepada Ana. Sementara orang yang bakal membeli buku memperhatikan fisik buku dan coba membaca sekilas isinya.

“Seratus ribu rupiah perbuku Bang.”

“Aduh, sepertinya kemahalan Na,…

“Mahal itu, buku ini kan sekaligus untuk dakwah dan siar, ucap Mama.”

“Jadi berapa Ma?,” Ana bertanya kepada Mamanya.

“Separuhnya sajalah,…”

“Begitu Bang?”

“Ya baik.”

“Untuk ilmu pengetahuan dengan buku setebal ini sebenarnya tidak mahal.
Untuk pertama bolehlah, hitung-hitung promosi.” *Bersambung