No.87

Masih melekat wajah Tini yang tadi sempat dilihatnya. Begitu pula Tini, memegangi dan mendekap buku karya Ustadz Daham, tersa bergetar hatinya.

Intainews.com:KARTINI membisikkan kepada Pida agar menanyakan apakah buku
itu bisa dibeli? Pida menanyakan kepada pemilik percetakan, apakah mereka bisa meniliki buku ini.

“Ya, boleh,…apa salahnya,” kata pemilik percetakan singkat. Pida
kembali bertanya, berapa harganya.

“Ah tak usah dibayar. Ambillah. Kalau mau beli buku ini nanti di toko-toko buku yang ada di kota ini.”

“Terimakasih Pak,” ungkap Tini dan ketiganya ketika hendak keluar rumah toko itu.

“Hai, tidak jadi cetak bukunya?”

“Jadi Pak, kami amati dulu kualitas buku ini sebagai hasil kerja percetakan bapak.”

“Oh begitu ya….tidak apa,…” kata lelaki itu. Saat keluar dari percetakan, Lies bertanya.

“Siapa yang harus baca buku itu lebih dulu?”

“Akulah,” kata pida begitu cepat. Tini diam saja, padahal semangat bergolak agar dia diberi kesempatan membaca pertamakali.

“Kalau begitu, akulah yang membaca duluan,” ujar Lies. Pida penasaran.

“Begini saja, Taruh tanganmu di sini. Kau juga Tin. Janji ya siapa yang menang duluan membaca buku itu.” Bertiga mereka mengangkat tangan lalu menurunkan serentak. Ternyata Pida dan Lies menelentangan telapak tangannya. Hanya Tin menelungkupkan telapak tangannya. Itu artinya dia yang menang.

“Okelah, kami kalah. Sebetulnya kami berdua sudah setuju kamu yang
baca Tin. Aku lebih suka membaca novel percintaan. Buku begitu pusing membacanya, dan membuat aku takut. Dosaku banyak.”

“Sama Pid, dosaku sudah banyak. Sudah tiga kali tukar pacar. Bisa kau bayangkan dosa apa yang kulakukan.”

Angkutan kota datang, mereka bertiga naik. Di dalam angkot, Tini masih terus mengamati cover buku itu. Dan di belakang buku ada foto Ustadz Daham dan riwayat hidupnya. Pida mengambil buku itu dari tangan Tin, untuk dapat ikut membaca riwayat hidup penulis. Lies juga ingin membaca perjalanan hidup Ustadz Daham.

“Memang cocok kamu Tin yang membacanya. Dan sebetulnya Tini yang tetap
berada di sisi Ustadz itu. Kamu kuliah mengambil sastra Inggris dan
kuliah bahasa Arab, pastilah bagus baha Inggris dan bahasa Arabnya Ustadz. “

“Sudahlah Tuhan tidak menjodohkan aku dengan Ustadz Daham itu.”

“Tapi di hatimu masih cinta dengan dia kan?,” kata Lies.

“Pastilah, tidak sedikit wanita yang baik-baik ingin mendapatkan suami
taat, ganteng dan kafah agamanya,” ucap Pida.

Sementara Ustadz Daham tatkala jalan pulang mengenang Tini, sambil menyetir mobil dia lebih banyak diam, sampai istrinya menegurnya.

“Bang apa yang abang lamunkan?”

“Tidak ada Na, cuma karena Ana mulai sibuk menjalin komunikasi untuk pemasaran buku kita, Abang diam saja.”

Seterusnya Ana menjelaskan, besok reaksinya insya Allah sudah kelihatan. Sejauh
mana rasa ingin tahu dari sinopsis yang Ana buat bersamaan menampilkan foto kulit muka buku dan kulit belakang. Ana menunjukkan apa yang dilakukannya melalui Android miliknya. Suaminya tersenyum dan sangat
senang. Ternyata istrinya ahli dalam bidang pemasaran melalui teklogi komunikasi.
“Lah Ana memang kuliah di jurusan komunikasi Bang.” Suminya lalu menggamit dagu istrinya. Ana pun merebahkan badannya ke bahu kiri suaminya. * Bersambung