No.86

Kartini tersentak ada buku Ustadz Daham. Lies dan Pida ikut melihatnya. Akhirnya apa yang ingin diketahui mereka sudah terjawab.

Intainews.com:ZULIANA hampir tidak percaya, buku itu adalah karya suaminya. Sungguh dari ilustrasi kulit buku yang bagus dan artistik, lembar demi lembar dicetak di kertas putih bersih yang ringan, isinya bagus. Buku ini berkualitas Bang dari buku buku lainnya. Suaminya hanya tersenyum saja, dia tidak ingin terjebak dengan ria.

Baginya yang penting buku ini cepat sampai ke masyarakat. Soal uang modalnya diserahkan dengan Ana. Mengenai harga buku itu juga diserahkan kepada istrinya. Jangan terlalu mahal, supaya banyak orang bisa membacanya. Dengan begitu siar dari isi buku ‘LA’ ini bisa tercapai.

Di Kota ketika Ustadz Daham memperhatikan karyawan percetakan mengunggah buku-buku ke mobil, sekaligus menghitung ulang, dan Ana menyelesaikan kekurangan uang cetak, matanya tertumbuk pada seorang gadis seperti Kartini bersama dua temannya. Namun Tini tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Ustadz Daham. Ingin rasanya dia menyapa, namun tertahan, karena dia mengerti Kartini terlanjur sakit hati ketika dirinya menikah dengan Zuliana.

Tetapi saat kembali menghitung buku yang sudah dimuat ke mobil, Lies dan Pida memberitahu Kartini, apakah betul yang di sana itu Ustadz Daham. Betul. Kartini melihat yang ditunjuk Pida dan Lies adalah Ustadz Daham. Ketika Lies mengajak Tini menghampirinya, Tini menolak. Hatinya berkata dia sudah ditepiskan oleh Ustadz Daham, dan dibuang, buat apalagi ditemui. Dia sudah menjadi milik wanita lain. Tini mengajak pergi dari tempat mereka menunggu angkutan kota.

Pada kesempatan yang sama Zuliana mendatangi suaminya, memberitahu sudah dilunasi semuanya. Sambil berjalan pergi, Tini masih melihat ke belakang, mobil yang disetir Ustadz Daham bergerak maju meninggalkan percetakan. Tetapi Ustadz Daham bisa melihat Tini di kaca spion. Sementara Lies Penasaran ingin tahu apa yang dilakukan Ustadz Daham, bertiga mereka mendatangi percetakan. Kata Pida pura-pura mau cetak buku. Mereka pun menemui pemilik percetakan yang selama ini tempat Pida, Lies dan Tin menjilid makalah.

“Kami mau cetak buku, bagaimana caranya?”

“Biasa saja, bagaimana mau dibuat buku itu, berapa eksemplar mau dicetak, pakai kertas apa dan harga cetaknya bisa berdamai,” ujar pemilik percetakan sambil memperlihatkan contoh-contoh buka yang dicetak.  Kartini tersentak ada buku Ustadz Daham. Lies dan Pida ikut melihatnya. Akhirnya apa yang ingin diketahui mereka sudah terjawab. Rupanya Ustadz Daham mencetak karya tulisnya berbentuk buku.*Bersambung