No.85

Intainews.com:KESEDIHAN Zulliana atas kematian lelaki yang pernah
menjalin asmara, tidak berlangsung lama. Seterusnya jiwanya menjadi lapang dan
terang. Pikirannya semakin fokus hidup bersama suaminya agar segera
mendapatkan momongan. Dia berjanji dengan dirinya untuk tidak akan pernah lagi terlibat apapun yang disebut keburukan atau perbuatan dosa. Segala sesuatu yang ingin dilakukannya pamit dengan suaminya.

“Ana, beberapa hari ini Abang lihat nampak riang, apakah penyakitmu sudah hilang?”
“Ya, berkat suami yang menyayangi Ana sepenuh hati,…” kata Zuliana sambil memeluk suaminya dari belakang, saat suaminya sedang menulis.

Suaminya tidak marah dan merasa terganggu, tangan kanannya menggamit dagu Ana. Kemesraan kembali bangkit seperti hari-hari sebelumnya. Keduanya melalui hidup dengan penuh kasih sayang.

“Abang belum mau tidur?”

“Terserah Ana, kalau sekarang kita tidur tidak mengapa. Menulis buku kan buka kerja borongan, tergantung mood saja.”

“Kemarilah, marilah kita tidur,…” Ana mengajak agar suaminya mau lebih cepat
tidur. Suaminya mematikan laptop dan merebahkan dirinya di sisi istrinya, yang serta merta memeluk suaminya. Keduanya hanyut dan terlelap.

Saat bintang malam telah hilang keduanya terbangun, mandi berjunub dan shalat. Seterusnya mereka pamit dengan Mama yang menyiapkan sarapan. Mereka berolahraga pagi, seperti biasa setiap hari libur. Sesekali suaminya lari-lari kecil diikuti Ana. Berhenti menarik napas dalam-dalam menghirup udara yang segar di Minggu pagi yang cerah.

Embun masih membasahi daun, sinar matahari lembut, selembut hati Zuliana yang tidak penuh ketegangan lagi. Apalagi seperti cerita temannya Pak Bon mentrasfer uang yang sangat banyak ke rekeningnya.

“Bang,….Ana pernah ada nazar untuk memberikan tali asih kepada seratus orang anak yatim.”

“Nazar apa itu Na,…”

“Waktu pertama kali ditemukan Mama dengan Abang, Ana tidak yakin kalau
Abang mau menjadi suami Ana.”

“Kenapa?

“Ana kan jelek, tidak cantik seperti kebanyakan gadis sekarang. Waktu
itulah Ana bernazar, kalau jadi menikah dengan Abang, Ana mau masak
bubur merah putih diberikan kepada seluruh tetangga. Dan mengundang
anak yatim.”

Bagus itu. Kapan mau kita buat?”

“Terserah Abang, hari apa yang cocok.”

“Semua hari menurut agama kita bagus, tidak ada yang jelek. Dan Ana juga tidak jelek, tapi manis. Seperti makan kue lapis manis dan lezat…”
Kalau sudah tersanjung Ana memeluk lengan suaminya.

“Jangan begini di depan umum Na, kurang baik.”

“Oh ya di kamar bisa ya,…”

“Tentu seperti yang kita lalui bersama.”

Handphone suaminya berdering. Diangkat dan ternyata dari percetakan, yang mengatakan buku sedah selesai. Kalau bisa diambil hari ini lebih bagus, tidak terlalu sibuk. Ana berkata diambil sekarang saja, dia tidak sabar ingin melihat buku itu. Ana pun mengatakan untuk pemasarannya biar dia yang mengatur. Suaminya mengingatkan, nanti terlalu lelah, sakit lagi. Maksud Abang jual buku itu mengecer seperti tukang koran?

Ana memasarkan buku itu melalui internet. Suaminya mengacungkan jempol buat Ana. Mereka pun bergegas jalan menuju pulang untuk selanjutnya menjemput seribu buku berjudul “LA” (jangan). * Bersambung