No.83

“Selama ini ketakutan kita itu dijadikan senjata untuk menekan Ana
supaya mau bersamanya lagi.”

Intainews.com:KALAU Zuliana riang, tidaklah itu sesungguhnya
keriangan. Diakuinya sendiri, dari mulai dia pergi dan tidur dengan Pak Bon, dia sudah menjadi pemain sandiwara untuk menutupi
perbuatannya. Pemain sandiwara dan pembohong diketahui dari buku
suamnya setipis kulit bawang. Begitu juga antara pembohong dan munafik
juga tipis bedanya.

Sampai hari ini dia terus bersandiwara dengan suaminya. Suaminya sering mmenimang-nimang hatinya, memuji-muji dirinya apakah itu sebuah sandiwara? Agaknya tidak. Ustadz Daham memuji istrinya karena dia senang dan mencintai. Terutama saat usai berhubungan badan, kelihatan wajah suaminya begitu
sumringah dan ceria. Tak lama iapun tertidur pulas.

Sementara itu, seringkali dirinya tak dapat tidur memikirkan akibat yang diperbuatnya bersama Pak Bon harus dipikulnya, tanpa berani meminta tolong kepada suaminya.
Dari ke hari berganti-ganti hari, semakin bertumpuk-tumpuk tumpuk
ketakutannya. Apakah tidak lebih baik mati saja? Karena itulah yang
membuat dirinya tenang, tak tahu lagi apapun yang akan terjadi.
Kematian adalah tidur panjang.

Tetapi setiap dia ingin mati, bukan berarti persoalan dengan Pak Bon
selesai. Selesai untuk dirinya, tetapi cerita kebusukan itu rerus juga
membuat Mama kecewa, dan Bunde marah setiap mengenang cerita busuk
dengan Pak Bon. Tiba-tiba ia berpikir, tidak perlu mati. Dirinya harus
kuat menghadapinya. Hatinya berkata, aku hadapi semuanya. Kudatangi
dia, supaya tidak merasa aku yang paling bersalah. Sementara apa yang
kuberikan selama ini tidakkah cukup membahagiakan dirinya di saat istrinya
tidak bisa melayaninya sebagai istri?

Pagi-pagi dikatakannya kepada Mama apa yang dipikirkannya malam tadi.
“Supaya kita terus-terusan seperti anak tikus dikejar-kejar kucing. Biar Ana hadapi semuanya sampai selesai,” tegas Ana.

“Apa yang mau kamu buat nak,…”

“Kudatangi dia, kubilang jangan ganggu aku lagi. Aku tidak takut.
Supaya sekalian hancur kalau mau hancur.”

“Bagaimana kalau suami tahu Na?”

“Selama ini Ma,..ketakutan kita itu dijadikan senjata untuk menekan Ana
supaya mau bersamanya lagi. Tidak Ma, lebih baik Ana mati kalau Abang
sampai tahu dosa besar Ana. Ma, Ana sudah merasa tak bisa hidup dengan laki-laki mana pun Ma, kalau tidak dengan Bang Daham,” begitu kata Ana sambil menangis di dada Mama. *Bersambung