No.82

Sekarang, Pak Bon tidak sadarkan diri, menelentang di rumahsakit.
Tidak ada suara dan kata-kata, matanya terpejam. 

Intainews.com:HARI INI menjelang bulan Ramadan, panas terik luarbiasa.
Menurut orangtua yang menjadi tetangga Zuliana, kalau sudah begini
panasnya sudah lebih dari 30 derajat celcius. Sejak malam tadi hati
Pak Bon ikut panas dan darahnya naik ke kepala, karena Ana yang
diharapkan tak kunjung datang. Tahulah dia, Ana tidak mungkin lagi mau
bertemu dengan dirinya. Ini yang membuat pikiran jiwanya terganggu.

Pagi sekali di rumah, Mama berbisik ke telinga Zuiana saat mereka berada di dapur
mepersiapkan makan siang. Bahwa hari ini adalah hari yang dijanjikan
dia harus bertemu Pak Bon dengan membawa Zuliana. Darah Zuliana
kembali tersirap, lalu segera memutuskan tidak masuk kerja. Zuliana
mengatakan, biarlah bertiga di rumah saja menunggu apa yang bakal
terjadi. Lantas Mama mengingatkan, kalau laki-laki itu datang? Ya kita
terima saja, apa maunya. Itu artinya suamimu akan menjadi tahu apa
sebenarnya kasusnya. Kalau sudah begitu Ana ciut , seperti sungut
bekicot membentur sesuatu. Nyalinya seperti terbang.

Di rumah Pak Bon sejak pagi ramai sekali. Pak Bon jatuh tersungkur di
depan pintu rumahnya dan menggelepar. Sekarang sudah dilarikan ke
rumahsakit oleh teman akrabnya. Sesungguhnya Pak Bon tidak tidak tidur semalaman bersama dengan teman akrabnya. Semalaman Pak Bon bercerita yang aneh-aneh dan
minta makan apa saja yang dimauinya. Sesudah itu Pak Bon meminta kepada
temannya carikan kertas segel dan pulpen dia mau menulis. Ketika
ditanya menulis apa, dia marah. Itu tak penting ka tanya.

Teman akrabnya mencari yang diminta Pak Bon. Lalu dia menulis di atas ketas
segel itu, rumah dan kebun sawit, limapuluh hektar sisa yang diberikannya kepada Zuliana diserahkan kepada sahabatnya. Sebelumnya Zuliana sudah mendapatkan ratusan hektar.
Temannya terkejut dan tak mengerti. Rumah dan mobil truk pengangkut
sawit dan pik-up ikut diserahkannya, plus dia menuliskan cek Rp 200
juta rupiah, diberikan kepada sahabat karib yang menemaninya selama
ini.

“Sebenarnya kalau aku Ketemu Ana, semua harta dan uangku akan
kuserahkan ke dia, katanya. Taoi sudahlah. Lalu dia menulis cek menyerahkan uang 5
miliar kepada Zuliana. Selebihnya, biarlah diambil mertuanya dan
ipar-ipar. Sekarang, Pak Bon tidak sadarkan diri, menelentang di rumahsakit.
Tidak ada suara dan kata-kata, matanya terpejam. Dokter mengatakan dia mengalami stroke dan tidak sadarkan diri. * Bersambung