No.80

“Apa kata orang nanti kalau mendapat kabar betapa buruknya kelakuan istri Ustadz penulis buku agama itu…” 

Intainews.com:SEKEMBALI Ustadz Daham dari masjid usai shalat magrib, istrinya belum juga kembali. Ketika dihubungi hanphonenya tidak aktif. Untuk menghubungi Mama ia sungkan. Namun Ustadz Daham yakin Zuliana
menjemput Mama di rumah Bunde. Ya, suami Ana menggoreng telur mata sapi untuk makan malam. Sayur yang dibelinya bersama Ana sudah habis. Dia makan nasi pakai kecap dan telur mata sapi.

Sebelum nasi habis, hanphone Ustadz Daham berdering. Oh, rupanya dari percetakan memberitahu cover buku berjudul ‘La’ sudah selesai, coba dilihat, kalau oke langsung saja buku kita proses cetak, begitu kata pemilik
percetakan bersemangat.

“Ada apa Pak. Apa percetakan mau libur?”

“Oh tidak Ustadz. Sambil memroses buku dan mengoreksinya, saya baca buku itu. Bagus sekali isinya. Begitu juga kata seniman yang membuat
cover buku itu. Saya lihat covernya pun bagus sekali, sederhana tetapi cukup mewakili isinya dan cukup artistik,…”

“Benar begitu Pak?”

“Betul, banyak buku kami cetak, tetapi buku ini luarbiasa isinya. Jadi kita buru cetaknya supaya lekas beredar dan mudah-mudahan bisa cetak ulang,…”

“Alhamdulillah,…” tukas Ustadz Daham sambil menengadahkan telapak
tangannya ke atas.

Di rumah Bunde, Mama Ana mengatakan bagaimana malunya dirinya kalau sampai Ustadz Daham tahu apa yang terjadi dengan Ana. Dia mengatakan kepada adiknya, bagaimana Ustadz Daham mengupas tentang agama dalam bukunya.

“Apa kata orang nanti yang telah membaca bukunya, kalau mendapat kabar betapa buruknya kelakuan istri Ustadz penulis buku agama itu. Kata-kata Mama dilontarkan kepada Ana yang kini lebih banyak diam dan menangis.

“Jadi, bagaimana kami ini,” Mama Ana bertanya kepada adiknya.

“Apalagi mau dibilang, hadapilah. Soal ancaman culik itu, jangan Kakak ke mana-mana dulu, di rumah saja. Kalau Kakak takut kusuruh nanti Haji Sardan dan istrinya tidur di rumah Kakak. Ingat, jangan tahu siapapun cerita ini. Ana, jangan sampai suamimu tahu. Sambil Bunde carikan jalan
keluarnya,…”

Selepas Isya Mama dan Ana baru tiba di rumah. Suami Ana membukakan pintu pagar dan mobil masuk. Begitu masuk ke rumah Ana memeluk suaminya mengatakan maaf terlambat pulang.

“Ah, tidak apa-apa Na. Abang sudah bilang, kalau tugas dan bekerja tidak apa,..”

“Ya sampai di rumah Bundenya diajak lagi bercerita,…” kata Mama Ana.

“Tidak apa-apa Ma, jadi Mama sudah makan?, Ana….”

“Kami sudah makan Bang, ini kami bawakan mie rebus untuk Abang.”

“Abang baru makan. Nanti Abang mau cerita sama Ana, ada yang penting,…”

Ana tersentak dan memandang wajah Mama. Kelihatan Mama jadi tegang, jangan-jangan menantunya sudah tahu tentang Ana… *Bersambung