No. 79

“Kita boleh menutup rapat-rapat, tetapi kalau Tuhan berkehendak terbuka, ya,… terbukalah…”

Intainews.com:BU HAJI, istri Haji Sardan, kaget dan tercengang sejenak mendengar cerita suaminya tentang Zuliana. Dia tidak menyanggka sedikit pun kalau wanita seperti Zuliana yang selama  ini pendapatannya besar sebagai pegawai negeri, rupanya menjadi peliharaan seorang lelaki mantan atasannya.

“Menjadi londo (pelacur) bukan berarti pegawai negeri tidak bisa melakukannya. Soal seks itu, bukan soal status pekerjaan, tapi soaliman seseorang.” Begitu ungkap H Sardan.

“Tapi dia kemenakan Abang itu, bukan londo, tapi gundik.”

“Apapun namanya dia menjual dirinya untuk keuntungan pribadinya. Pantaslah, selama ini banyak sekali uangnya. Banyak hartanya. Berapalah gajinya sebagai pegawai negeri. Kasihanlah Ustadz Daham memiliki istri seorang pelacur.”

“Tapi tidak ada salahnya juga kalau Ustadz bersedia menerimanya, kemudian Zuliana tobat nasuha, menjadi perempuan baik-baik. Selama ini kulihat Bang, Ustadz sayang sekali dengan istrinya. Dan Ana pun
kelihatan mencintai suaminya. Berbeda sekali dengan saat mula dijodohkan. Semoga Malaikat membantu rumahtangga mereka baik-baik saja Bang,…” kata Bu Haji kepada suaminya.

Berbeda keadaan di rumah Haji Sardan dengan kondisi di rumah Bunde. Zuliana hanya bisa menangis tersedu-sedu, tak bisa bicara apapaun saat mendapat cuci maki dari Bunde yang mengganggap kemenakannya Ana sudah jatuh ke tempat yang paling rendah, alfala safilin. Mama juga turut
menangis yang disebut Bunde turut bersalah, setelah meninggal suaminya tidak sanggup menjaga anak gadisnya.

“Kakak tersihir dengan uang yang banyak dan harta berlimpah, sehingga tidak pernah mau curiga dari mana sebenarnya didapat dengan pegawai negeri masih golongan rendah.”

“Jadi kalau sudah begini, apa yang harus kami buat?” Mama Ana sangat pasrah dan memelas.

“Apalagi? Laporkan ke polisi ancaman penculikannya. Tidak bisa ini selesai, kalau tidak polisi yang bertindak.”

“Kalau ke polisi, artinya suami Ana akan tahu cerita ini Bunde,…” tutur Ana takut sekali dan menangis.

“Pernah kau tahu bakal begini jadinya? Sesudah menikah suamimu akantahu yang kau buat. Jangan-jangan terbongkarnya kasus ini jalan dari Tuhan supaya kalian tau, betapa bahayanya perbuatan terlarang yang satu ini
ketika terungkap. Ya risikolah. Kita boleh menutup rapat-rapat, tetapi kalau Tuhan berkehendak terbuka, ya,… terbukalah…” jelas Bunde yang terus menyalahkan Ana dan Mamanya.

Ana dan Mamanya tidak menyahut dan berkata apa-apa. Keduanya bagai ular tersudut di pojok ruangan. Hanya bisa mengalirkan air mata. Waktu sudah menjelang sore, Ana dan Mama lupa Ustadz Daham yang bertanya-tanya,
pukul berapa Ana pulang? *Bersambung.