No.77

Zuliana sedang berpikir keras menyusun kata-kata untuk tidak mengakui tuduhan Pak Bon. Menciptakan alasan-alasan yang logis, seperti setiap tidur dengan Pak Bon dan tidak pulang,..

Intainews.com:PAGI hujan rintik-rintik membasahi mobil, daun-daun tumbuhan dan kembang-kembang di halaman hotel. Udara yang sejuk belum sepenuhnya mampu mendingin hati Zuliana di sisi suaminya sedang sarapan pagi di restoran hotel. Suaminya
memperhatikan Ana tidak begitu memegang perutnya, tetapi wajahnya masih nampak gelisah. Kalaupun sakit, sudah tidak seperti tadi setelah minum obat, begitu kata hati suaminya.

Zuliana disarankan makan bubur ayam saja. Tetapi ia malah mengambil nasi goreng, telur mata sapi dan ayam goreng. Ketika disinggung suaminya Ana merapatkan kepalanya ke bahu suaminya sambil  mengatakan, “kepingin,….”. Ya sudah, suaminya tersenyum yang artinya membolehkan. Mereka sama-sama makan nasi goreng, ditambah masing-masing dua roti bakar.

“Kita tidak usah ke rumah sakit Bang, sepertinya tidak sakit lagi. Kita pulang saja. Ana mau masuk kantor juga. Sudah Ana komuikasikan agak terlambat masuk kantor.” Selanjutnya Ana menyambung bicaranya.

“Tapi kita jangan ngebut, banyak bahayanya,..”

“Ooo, ialah. Ana belum mau mati dan tinggal Abang sendiri.”

“Ya, mati itu pasti bagi setiap makhluk hidup ciptaan-Nya. Sebaiknya kalaupun mati karena Allah, sudah sampai janji kita. Bukan mati karena ulah.” Begitu kata suaminya sambil memperhatikan, istrinya sudah lebih baik, padahal jiwanya sedang berkecamuk. Bangkai yang disimpannya akan tercium juga.

“Nanti, sampai di rumah, Mama tidak di rumah, Mama tidur di rumah Bunde. Jadi, Abang sendiri di rumah sampai Ana pulang agak sore. Ikan dan sayur nanti kita beli, jadi Abang hanya memasak nasi saja. Tidak apa ya Bang?”

“Oh, tidak apa Na, tidak usah jadi pikiran Ana. Selesaikan saja pekerjaan. Abang pun mulai menulis buku selanjutnya,…”

“Jangan terlalu dipaksa Bang, kalau lelah istirahat saja,…” kata Ana dan suaminya menggangguk-anggukkan kepala. Suaminya juga berpesan, kalau sudah selesai kerjanya langsung pulang dan bawa obatnya. Ana mematuhi setiap yang dikatakan suaminya. Oh, wanita ini merasa semakin tidak jelas apa yang harus dikerjakannya.

Rencananya menemui Mama dan mendengar cerita selengkapnya tantang ancaman Pak Bon. Selain itu Zuliana sedang berpikir keras menyusun kata-kata untuk tidak mengakui tuduhan Pak Bon. Menciptakan alasan-alasan yang logis, seperti setiap tidur dengan Pak Bon dan tidak pulang, sehingga tidak mencemaskan Mama. Ana tidak mau Mama membenci dirinya, menganggap dirinya pelacur selama ini.

Kepada Haji Sardan sejak subuh datang ke rumahnya, Mama mengatakan sunyi di rumah sendirian. Mama menutupi apa yang sudah terjadi. Walaupun Haji Sardan dan istrinya masing-masing meragukan alasan Mama Ana takut sendirian di rumah. Selama ini saat Ana sering tidak pulang karena kerja lembur Mama Ana tetap sendiri di rumah. Mama Ana pun semakin tidak kerasan tinggal di rumah Haji Sardan dibebani cerita tantang Ana. Akhirnya dia minta diantarkan ke rumah adiknya. Namun, saat dia menelpon Ana dan mengatakan niatnya itu, lalu dilarang Ana. Tunggu sampai Ana sampai, sebentar lagi. Ana takut kalau Mama terlepas cakap menceritakan kepada adiknya tentang certa Pak Bon dan ancamannya. Akhirnya Mama minta diantarkan juga oleh Haji Sardan ke rumah adiknya. * Bersambung