No.76

Badan Zuliana kini seperti ikan kehabisan air berbalik ke kiri dan ke kanan, sekali-sekali ke atas dan ke bawah menandakan dirinya teramat gelisah.

Intainews.com:MENJELANG datangnya subuh, Zuliana tersentak dengan panggilan handphone-nya, yang ternyata dari Mama. Dia bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, hal itu dilakukannya karena mendengar suara Mama yang menangis. Ada apa? Zuliana membiarkan Mamanya bicara, malam tadi lewat tengah malam ada orang mengetuk pintu. Tadinya Mama berpikir Zuliana dan suaminya pulang. Ternyata dua orang memakai tutup muka masuk, dan meminta Mama tidak boleh berteriak kalau masih mau hidup. Orang itu memegang pistol.

Zuliana tidak sabar dengan cerita Mama masih dalam ketakutan. Mama menyebutkan, laki-laki yang memegang pistol meminta Mama untuk mengtarkan Ana kepadanya. Ditunggunya dua kali 24 jam. Tempat pertemuan di restoran yang disebutnya di kota. Laki-laki itu menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini antara dirinya dengan Ana.

“Supaya kalian tahu, kalian mengawinkan anak yang sudah menjadi istri saya tiga tahun lamanya. Selama itu pula, uang dan hartanya habis dikuras Zuliana. Jangan dia main-main, ingat kalau tidak kalian penuhi semua kalian mati.”

Mendengar itu Zuliana tahu ada hubungannya dengan Pak Bon. Bisa saja yang datang itu orang suruhannya. Ana meminta Mama supaya ke rumah Haji Sardan.

“Dari sana kita atur nanti mama tinggal di mana dan apa yang akan kami lakukan.”

Mendengar cerita Mama, Ana naik darah. Kebenciannya bertambah setelah Pak Bon melibatkan Mamanya yang sudah tua. Sesudah mengatakan itu, Ana meninggalkan kamar mandi, kembali merebahkan badan di sisi suaminya. Jam menujukkan pukul tiga dinihari. Dipandangnginya wajah suaminya yang tertidur pulas dengan wajah yang polos. Hati kecilnya mengatakan, akhirnya suaminya harus tahu juga rahasia ini. Apakah ini saatnya dia harus menceritakan semua ini kepada suaminya?

Tidak, tidak mungkin untuk diceritakan. Biar dia hadapi sendiri dulu sampai dimana jadinya. Ana masih terus memikirkan apa yang harus dilakukannya. Pikirannya kini menjadi kacau, hatinya galau, ternyata Mama akhirnya tahu apa yang disimpannya selama ini. Bagaimana kalau suaminya jadi tahu? Ah, Zuliana merasa tidak kuat menghadapi kenyataan ini, walaupun dengan kemarahannaya ia ingin melawan. Apa yang harus dilakukannya? Kembali dia bertanya.

Badannya kini seperti ikan kehabisan air berbalik ke kiri dan ke kanan, sekali-sekali ke atas dan ke bawah menandakan dirinya teramat gelisah. Akhirnya suaminya terjaga, melihat Ana yang sangat gelisah.

“Sakit lagi perutnya Na,..? Minum obat ya,…” suaminya merasa asam lambung Ana kembali kumat. Ana tidak bicara, tidak tahu apa yang mau dikatakannya kepada suaminya. Kali ini, saat inilah tamat semuanya. Pastilah suaminya tidak bisa menerima semua ini.

“Kita ke rumahsakit Na,…” Suaminya turun dari ranjang, melihat jam sudah masuk subuh.
“Yuk kita shalat dulu dan ke rumahsakit, berdoa semoga dibebaskan dari penyakit Ana itu.” Suaminya mengangkat tubuh istrinya yang memegangi perut dan ke kamar mandi untuk berwudhuk. *Bersambung