No.74

  “‘Honesty saves you, even if you fear it,’ kata Ali bin Abi Thalib. Kejujuran salah satu dari akhlak mulia yang sangat ditekankan oleh Islam. Kejujuran itu mahal, apalagi di tengah kehidupan dunia sekarang ini yang dipenuhi kebohongan, perilaku koruptif dan kejahatan lainnya. ’ Kejujuran akan menyelamatkanmu meski kamu merasa takut akan hal itu,’ seperti kata Ali bin Abi Thalib.”

Intainews.com:MALAM ini adalah malam di hotel yang terbilang mewah bertingkat dipilih oleh Zuliana dan suaminya tempat istirahat, santai. Tingkah laku dan gerak-gerik seperti adam dan hawa, tidak ada sesiapa, segalanya sebagai sepasang suami istri dapat dilakukan semau hati, dengan mood yang yang dibangun antara dirinya dengan suaminya untuk mendapatakan kegembiraan, kesenangan dan berkesan.

Tetapi kelemahan manusia selalu tidak pernah tahu apa yang terjadi bahkan lima menit sekalipun yang terjadi di depan. Suasana yang diharap pengantin baru ini mendadak menjadi rusak oleh kemunculan Pak Bon yang masih terus ingin menguasai, menjajah dengan uangnya manjadikan diri Zuliana sebagai pelacur. Untunglah suasana buruk yang bisa terjadi ketika lelaki naik pitam dan murka jika nafsu binatangnya terkendala bisa teratasi.

Kembali Zuliana mengelus dada, apa yang diperkirakan terjadi bisa lepas. Padahal Pak Bon hanya dua meja di belakangnya di restoran yang sama saat makan malam. Dengan dalih asam lambungnya kumat, Tuhan masih menolong dirinya belum hancur oleh tindakan lelaki yang kalap. Suasana buruk yang seharusnya dibenturkan kepada suaminya ternyata tidak terjadi.

Tetapi dalam batinnya, peristiwa buruk dan menjijikkan seperti bom waktu yang setiap saat meledak. Namun, dia besikukuh tidak berterus terus terang kepada suaminya rahasia buruk itu, biarlah dia bawanya mati dirinya yang pernah terseret menjadi pelacur, saat jiwanya gamang kala itu. Dia tidak sedikit pun tega menyakiti suaminya yang baik ini.

Suasana tegang di restoran itu hilang perlahan-lahan seperti kemunculan bintang gemintang.Tiba-tiba suaminya menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala, berkata pelan, tapi cukup jelas terdengar karena wajah Ana sangat dekat dengan bibir suami yang berada di sebelah dirinya di atas ranjang.

“Ana,…apa pendapatmu tentang kejujuran?” Oh, ucapan suaminya itu membuat darahnya berdesir dan detak jantungnya menjadi kencang. Apakah pertanyaan suaminya berhubungan dengan rahasia dirinya dengan Pak Bon yang disembunyikannya?

“Maksud Abang apa Bang?” Ana kembali bertanya, dan suaminya tersenyum.

“Abang yakin Ana tahu tentang kejujuran, yang sejak kita sampai sekolah dan dewasa kata itu selalu disebut, orangtua kita dan guru-guru bangsa.”

“Pastilah menurut Abang Ada hubungannya dengan kita…”

“Tentulah,…” kata suaminya sambil mengusap-usap alis Ana dengan telunjuknya. Kembali kata-kata suaminya membuat dirinya berkeringat dingin.

“Jujur itu tidak bohong. Tapi jujur itu tergantung ruang dan waktu….” ucap Ana seperti buku yang dibacanya waktu kuliah.

“Ha, itu dia. Coba Ana uraikan,…” ujar suaminya membenarkan, namun masih tetap membuat dirinya waswas. Jangan-jangan ini jalan untuk suaminya tahu rahasia yang disimpannya rapat-rapat. Ana bungkam, tidak mau memenuhi permintaan suaminya.

“Cobalah Abang yang menguraikan, biar sebagai istri Anapintar,..”

“Begini,…tapi kalau Abang salah mengungkap tentang kejujuran ingatkan ya,…. ‘Honesty saves you, even if you fear it,’ kata Ali bin Abi Thalib. Kejujuran salah satu dari akhlak mulia yang sangat ditekankan oleh Islam. Kejujuran itu amat mahal, apalagi di tengah kehidupan dunia sekarang ini yang dipenuhi kebohongan, perilaku koruptif dan kejahatan lainnya, kalau jujur semua itu tidak terjadi.’ Kejujuran akan menyelamatkanmu meski kamu merasa takut akan hal itu,’ seperti kata Ali bin Abi Thalib,” begitu urai Daham. Dan Ana semakin merasa ngeri, ini menyangkut dirinya. Lalu diberanikannya bertanya.

“Lalu,…apa hubungannya sama kita Bang?”

“Kejujuran inilah membuat seseorang akan dihargai dan dipercaya. Allah Swt sangat mencintai hamba-Nya yang berhati jujur, berkata dan berlaku jujur. Sudah jelas Na.”

Keduanya saling behadapan antara hidung Ana dan suaminya nyaris rapat. Sebelum menyambung kata-katanya, suaminya menarik nafas panjang. Ana menunggu.*Bersambung