No.73

Sebaik-baiknya lelaki menikahlah dengan wanita yang masih perawan. Istri yang demikian sangat menyayangi suaminya, lebih mengutamakan cintanya kepada suami daripada yang lainnya

Intainews.com:TIBA di hotel, langsung saja Zuliana merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak lama suaminya datang setelah memarkirkan mobil dan memesan obat asam lambung yang diminta istrinya. Suaminya memegang kening istrinya yang tidak panas, dan wajahnya sudah kembali memerah. Begitu suaminya meraba-raba purutnya, ternyata suaminya tersenyum dan mengecup keningnya. Ana dengan manja memeluk suaminya minta disayang. Ustadz daham menyayang Ana dengan penuh kasih sayang.

Baginya inilah wanita pertama yang hidup bersama dengannya. Walaupun Ana bukan wanita pertama yang dicintainya. Ustadz Daham memiliki cinta pertama dengan Kartini, gadis sekampungnya, tetapi gagal karena tidak berjodoh. Bagi Daham, di saat sedang sendiri di rumah, ketika istrinya bekerja terkadang terlintas juga dihatinya Tini. Di mana sesungguhnya gadis itu. Berita terakhir dari Pak Haji Sardan dia di kota ini. Terlintas pula di hatinya kalau dia bisa melihat gadis itu.

“Kenapa Abang diam saja? Apakah karena Ana sakit?”

“Ah tidak, hanya memikirkan kalau sudah makan obat tidak juga sembuh, apakah kita ke rumah sakit atau pulang.”

“Maaf ya Bang, Ana sudah membuat abang resah.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, sakit itu bisa saja datang kapan saja. Percayalah tidak sedikitpun ada keresahan Abang karena istri Abang sakit,…”

“Sudah tidak berapa sakit lagi Bang. Mungkin karena Ana terlambat makan,”

“Alhamdilillah, tapi tetap harus makan obat.”

Baru saja disinggung tentang obat. Terdengar bel berbunyi dan obat yang dipesan sudah datang. Petugs hotel menyerahkan obat dan memberikan uang kembalinya. Ustadz Daham mengatakan ambil saja sisanya, uang diberikan seratus ribu rupiah. Petugas hotel mengucapkan terimaksih.

“Ha,…sekarang kita minum obat dulu sayangku,…”

Suaminya mendekap tangan istrinya untuk bangun. Lalu membaca cara-cara menggunakan obat ini.

“Ya, obat sirup. Dua sendok sudah cukup.”

Sesudah meminumkan obat kepada istrinya, giliran Ana menyuapkan dua sendok obat asam lambung ke mulut suaminya. Sesudah minum obat keduanya berpelukan, berbaring dengan penuh kasih sayang. Daham mengusap-usap punggung Ana. Istrinya menciumi tangan suaminya. Perlahan-lahan ketakutan Ana hilang, namun hilang yang sesungguhnya tidak bisa. Ana tetap waswas dan takut kalau Pak Bon menyakitinya. Lalu dalam diamnya Ana teringat tentang pria yang sebaik-baiknya lelaki menikahlah dengan wanita yang masih perawan.

Suaminya menulis di bukunya ada tiga alasan menurut agama. Istri yang demikian sangat menyayangi suaminya, lebih mengutamakan cintanya kepada suami daripada yang lainnya. Pihak pria pun akan semakin cinta karena sifat dasar pria yang tidak suka kalau pasangan wanitanya tersentuh orang lain. Dalam bukunya ‘La’, wanita yang masih gadis memiliki kerinduan akan kehadiran suami pertamanya, yang pada dasarnya cinta yang dalam itu terjadi pada cinta pertama. Cerita ini masuk ke sanubarinya, namun bagi dirinya sekalipun Pak Bon yang pertama kali menyetubuhinya, dia merasa cintanya pertama kali dengan Ustaz Daham yang menikahinya. *Bersambung