N0.72

“Siapa saja yang ada di rumah itu aku sikat, aku tembak kepalanya, supaya Ana tahu itu pembalasan dari kesobongannya,”

Intainews.com:SAAT asyik suami istri ini makan malam, tiba-tiba mata Ana tertumbuk dengan wajah laki-laki yang sangat akrab. Pak Bon bersama temannya, masuk ke restoran yang sama. Pak Bon mengambil tempat duduk tiga meja di belakang Zuliana. Untunglah makan sudah selesai. Ana tiba-tiba berkeringat dingin akibat ketakutan. Ia takut luar biasa kalau di restoran ini Pak Bon mendatanginya dan mengebrak-gebrak di depan suaminya, lalu semua yang ada direstoran ini menyaksikan dirinya dipermalukan.

“Eh Na, ada apa, kenapa pucat wajah Ana.”

“Ana sakit perut Bang, asam lambung Ana kumat. Yuk kita keluar mencari obat.”
Tidak ada suara, Daham memanggil pelayan sesudah dihitung, dibayar langsung oleh suaminya. Lalu mereka meninggalkan restoran. Ternya Pak Bon duduknya membelakangi Ana, sehingga dia tidak melihat Ana. Tetapi Ana benar-benar ketakutan. Sesudah mobil bergerak menuju hotel, suaminya mengingatkan soal obat asam lambung.

“Lebih baikan Bang kita cepat sampai di hotel, nanti minta tolong petugas hotel belikan obat, dan Ana bisa istirahat.” Suaminya yang takut kalau ada apa-apa dengan Ana, Dia menuruti permintaan istrinya. Ana masih terus memijit perutnya, sekali-sekli mau muntah.

“Kita ke rumah sakit saja Na.”

“Tidak usah Bang mudah-mudahan sebentar lagi bisa normal.” Ana pura-pura sakit agar bersama suaminya bisa secepatnya meninggalkan restoran. Sementara suaminya merasa Ana benar-benar sakit. Membuat dia ketakutan, karena selama ini tidak ada cerita sakit asam lambung. Tapi, kata suaminya dalam hati, penyakit bisa datang kapan saja.

Sekarang suaminya sudah mulai agak tenang, istrinya tidak begitu pucat dan tidak keringat dingin lagi. Tiba di hotel, An menyebut langsung saja ke kamar. Permintaan istrinnya tetap dituruti dengan baik.

Pak Bon benar-benar tidak melihat Ana. Begitu juga temannya. Pak Bon makan sambil mengatur rencana, apalagi yang harus dibuatnya supaya Ana tunduk dan kembali kepada dirinya, namun tidak meninggalkan jejak yang dapat dijadikan bukti. Melempar selebaran keburukan Ana yang kedua kalinya tidak ada reaksi. Sebab Pak Bon tidak tahu tumpukan surat dalam pelastik yang kembali diletakkan di depan pintu rumah Ana, diambil pengangkut sampah yang pagi-pagi sekali sudah datang.

“Bagaima kalau kutembak kepala perempuan celaka itu” Bisik Pak Bon yang kesal dan kecewa.”

“Jangan menyelesaikan masalah dengan masalah yang mengakibat kerugian diri sendiri. Apa sudah betul-betul tidak ada lagi perempuan lain yang bisa hidup denganmu. Atau kau sudah mati rasa untuk perempuan lain.”

“Jangan banyak sekali diskusi soal itu. Aku mau action. Eksekusi. Bukan kata-kata nasihat. Kau bayangkan sudah berapa lama aku tidak bertemu dan tidur bersamanya. Tengah malam ini biar aku yang ke rumahnya. Siapa saja yang ada di rumah itu aku sikat, supaya Ana tahu itu pembalasan dari kesobongannya,” sergah Pak Bon sambil meninggalkan restoran. *Bersambung