No.69

Sebaiknya menginap saja di kota. Suaminya setuju. Seperti menghabiskan sisa bulan madu

Intainews.com:TIBA di kota, menurut Zuliana percetakan tempatnya dekat kampus. Suaminya menyetir ke arah kampus. Di salah satu rumah toko (Ruko) mobil berhenti, Zuliana lebih dulu masuk ke Ruko, disusul suaminya bertemu dengan pemilik usaha percetakan. Tidak pakai lama Zulia menjelaskan niatnya. Oh, pemilik percetakan meminta karyawannya membawa Ana dan suaminya. Di ruang yang sangat sejuk, luas dan lebih cocok disebut perpustakaan, cukup banyak contoh buku dan novel.

Zuliana langsung asyik memilik beberapa buku yang disukainya. Suaminya juga memegang dua buku. Pemilik percetakan menemui suami istri yang sibuk memilih contoh buku, sampai akhirnya Ustadz Daham setuju dengan bentuk salah satu buku yang dipegang Zuliana. Pemilik percetakan yang sudah banyak mencetak buku dan novel juga setuju dengan bentuk buku pilihan Zuliana. Kulitanya tebal dan mengkilap. Kertas di dalam putih dan ringan.

“ Judulnya ?” pemilik percetakan bermarga Tarigan bertanya sambil memegang pulpen dan catatan. Pertanyaan itu membuat Zuliana dan suaminya saling berpandangan.

“Judulnya apa Ana,….”

“Terserah Abang, Ana tidak paham.”

“Ana kan sudah baca sampai habis isinya. Abang serahkan pada Ana,…”

“Jangan Bang,.. jangan Ana yang buatkan judulnya. Jangan sampai isinya bagus judulnya tidak bagus,….” Ana terus menolak berulang-ulang menyebut jangan, jangan. Kemudian Suaminya memutuskan.

“Judul bukanya Jangan,” kata Suaminya serius namun Ana merasa suaminya bercanda.
“Ya Pak Tarigan judul bukunya ‘Jangan’, tetapi bahasa Arab ‘La’,…”

“Ya Bang bagus dan cocok judul bukunya ‘La’. Zulina setuju, Pak Tarigan juga setuju, karena isinya memang jangan,….jangan takut, jangan menangis, dan jangan lakukan apa saja yang dilarang Allah Swt melalui Alquran dan Hadis. Pak Tarigan memanggil karyawannya.

“Nah, ini profesinya melukis disain ilustrasi kulit buku. Diskusikanlah bagaimana yang dimaui,…”

Ustadz Daham menyalamii anak muda itu dan menceritakan bagaimana yang diinginkannya dan Zuliana juga diikutkan untuk ilustrasi buku itu.

“Bang kalau bisa ilustrasinya jangan terlalu ramai. Ini kan bukan novel.”

“Ya, betul. Tolong ya,…”

“Maaf Bang pengarangnya siapa namanya,…” Pertanyaan itu membuat suaminya memalingkan wajahnya ke istrinya untuk memintra pertimbang. Spontan Ana menyebut nama pengaranya.

“Nama pengarangnya Ustadz Daham.” Pelukis itu tersenyum meminta kepastian. Ana menguatkan.

“Namanya memang Ustadz Daham. Ayahnya dulu mengingin anaknya jadi Ustadz.”

Klop sudah. Uang sudah diselesaikan. Riwat hidup pengarang nanti dikirim melalui emai. Dan disain kulit buku juga dikirim ke email Daham. Lalu Ana mengusulkan kepada suaminya, terlalu letih kalau langsung pulang. Sebaiknya menginap saja di kota. Suaminya setuju. Seperti menghabiskan sisa bulan madu. Ustadz Daham percaya apa yang diminta istrinya, adalah kebaikan. * Bersambung