No.65

“Apa bedanya kalau aku melacur. Kubayar pelacur itu. Ana itu posisinya sama dengan pelacur yang secara berkala mendatangi aku untuk tidur dan berhubungan badan. Kubayar, berapa banyak sudah kuberi uang sebagai jasanya berzina denganku.”

Intainews.com:ANA masih terus bertanya tentang seorang penzina yang bertaubat bagaimana caranya. Suaminya sudah menjelaskan, tetapi Ana masih ingin bertanya, bagaimana kalau wanita penzina itu akan menikah, apakah harus mengkui dosa-dosanya yang bezina lebih tiga tahun lamanya kepada calon suaminya?. Eh, rupanya suaminya sudah tertidur. Ya,…Zuliana perlahan mengangkat tangan suaminya yang masih berada di atas pinggangnya. Lalu Ana ke luar dari kamar, memeriksa dan memastikan pintu dan jendela sudah terkunci rapat. Mama sudah tidur, namun saat Ana membuka pintu depan yang tidak terkunci dan di depan pintu ada setumpuk kertas yang dibacanya tentang dirinya.

Aduh, kalau sempat kertas-kertas yang menceritakan secara lengkap hubungannya dengan Pak Bon diketahui Mama dan suaminya, pastilah binasa kasih sayang dan cintanya dengan suamnya. Sertamerta Ana mengunci pintu depan rumah dan terburu-buru masuk kamar mandi. Di kamar mandi surat yang pasti dari Pak Bon dibacanya dengan cermat. Isinya, selain membuka rahasia hubungan dirinya dengan Pak Bon, juga ancaman akan membuka cerita busuk ini ke segenap penduduk kampug dan seluruh teman di kantor tempat Ana bekerja apabila tidak secepatnya menemuinya. Bahaya, surat Pak Bon seperti tidak main-main.

Ana lalu menyimpannya di atas asbes langit-langit kamar mandi. Lalu dia kembali ke kamarnya. Suaminya terbangun dan menanyakan kenapa belum tidur, dari mana? Ana menjawab dari kamar mandi sakit perut, dan diare. Sudah minum obat. Suami megajak istrinya tidur. Kembali suaminya merebahkan badannya dan langsung tertidur. Sementara Ana tidak juga dapat memejamkan matanya. Pikirannya terganggu sekali dengan surat Pak Bon di depan pintu rumahnya. Kembali dibayangkanya, kalau sampai surat-surat itu ditemukan Mama, atau suaminya, celakalah rumahtangganya.

Sementara di jam yang sama di tempat berbeda, Pak Bon ingin mendapat kabar dari temannya kepastian selebaran itu terbaca oleh Ana, atau suaminya juga Mamanya.

“Kuletakkan pas di depan pintu, pasti terbaca Bos….saat pintu dibuka siapapun”

“Yang penting, salah satu dari mereka membacanya sudah cukup baik, yakinlah Ana pasti bereaksi, dan menghubungi saya untuk berbaikan. Nah, di saat itu kita akan tutup komunikasi supaya dia kalangkabut aibnya terbuka,” Pak Bon tertawa.

“Kalau dia melapor ke polisi? Karena ini bentuk teror.”

“Itu tidak mungkin. Tapi kalau dia lapor polisi juga, Kapolsek teman dekat kita,”

“Kalau dia minta kembali dengan Bos, bagaimana?

“Sekali ini tidak main-main, langsung kubawa ke kantor agama untuk dinikahkan.”

“Dia kan istri orang Bos, mana bisa dinikahkan,….”

“Kata siapa tidak bisa? Yang tahu dia sudah menikah suaminya, orangtuanya dan kamu.

Kubawa dia ke Jakarta dan kami menikah di sana, apa susahnya dengan orang seperti aku yang duda ini, apa saja bisa kulakukan. Kalau ayam masih mau makan jagung, hukum bisa dibeli,…..”

Pak Bon sudah tidak percaya lagi dengan orang pintar dan para normal untuk mengembalikan Ana kepada dirinya. Ini jalan terbaik, menyebarkan kasus perzinahan yang dilakukan Ana dengan dirinya menjadi senjata.

“Kalau perzinahannya diungkap, Bos terlibat karena Bos pelakunya.”

“Apa bedanya kalau aku melacur. Kubayar pelacur itu. Ana itu posisinya sama dengan pelacur yang secara berkala mendatangi aku untuk tidur dan berhubungan badan. Kubayar, berapa banyak sudah kuberi uang sebagai jasanya berzina denganku,” kembali Pak Bon tersenyum. Uang dapat mengatur apa saja yang menjadi keinginan dan kemauan seseorang.*Bersambung