No.63

“Ingatlah Allah di waktu senang, dan ingatlah Allah di waktu sempit atau susah karena Allah sebaik-baik penunjuk jalan.”

Intainews.com:ZULIANA menbuat teh manis dan penganan untuk suaminya yang mulai lagi menyalakan laptop. Meneruskan menulis sedikit lagi supaya segera selesai. Besok pagi-pagi bersama suaminya ke kota untuk mencari pencetak buku yang cocok dan lux. Ana mau buku merupakan karya pertama suaminya di cetak bagus, karena isinya sangat bagus untuk belajar dan menambah pengetahuan. Dalam tulisan karya suaminya segala bentuk ajaran agama dituliskan dengan bahasa yang ringan, tetapi dalam maknanya.

Mama Ana pun mengatakan karya menantunya bagus sekali. Mudah-mudahan menjadi buku yang laris, bisik hati Mama Ana, supaya taisiyah-tausiyah bisa diterima banyak orang mendatangkan pahala bagi pengarangnya. Ketika Zuliana duduk di sofa dengan suaminya, dan pindah duduk di sisi istrinya, Daham kembali bertanya, apakah menerbitkan bukunya tidak masalah?

“Maksudnya Abang masalah apa? Tenang sajalah, tidak sampai mengganggu keuangan kita. Ana kan kerja, masih ada gaji Ana. Simpanan Ana pun banyak bang. Ana tunjukan simpanan Ana ya?  Bang uang Ana uang abang juga. Apapun yang menjadi milik Ana sudah menjadi milik Abang, ambillah, pakailah,” kata Ana sepenuh hati. Suaminya memeluk Ana dengan wajah penuh senyuman dan hati berbunga-bunga. Ana membalas pelukan dan ciuman dari suaminya.

“Maafkan Ana bang,…”

“Maafkan apa….semuanya baik-baik saja.”

“Ana minta maaf bersuara agak keras. Seperti abang bilang perempuan tidak bagus bersuara keras. Perempuan harus bisa menjaga suara dan lidahnya, gerak geriknya harus penuh kelembutan.” tutur Ana mengulang nasihat suaminya sambil tidur di dada suaminya. Daham mengelus-elus bahu dan lengan istrinya.

“Besok kita pergi ke kota mencari percetakan yang bagus.”

“Ingat ya bang, besok bagaimana maunya abang dibuat abang bilang, jangan segan-segan.”

“Oh abang ingat apa yang dikatakan pengarang terkenal di dunia, Willyam Shakespeare…”

“Apa itu bang?”

“Aku tidak dapat melihat diriku sendiri, kecuali dari pantulan orang lain,…” medengar itu Ana terdiam, dia mencoba menyerap dan mencerna makna kalimat pujangga ternama itu.

“Bang bilanglah apa artinya itu.”

“Yang benar dalam hidup ini janganlah merasa diri paling baik dan benar. Tetapi biarlah orang lain yang menilainya, karena itulah yang paling jujur.”

Apakah selama ini ada kata-kata Ana yang kasar?”

“Tidak, cuma sedit keras,” begitu kata Ana.

Selama menjadi istri Ustadz Daham, banyak sekali ilmu yang didapat dari suaminya. Ana merasa suaminya sekaligus menjadi gurunya. Sungguh dalam banyak hal, suaminya memiliki banyak solusi dalam perjalanan hidup ini. Dan suaminya tidak mau disanjung atau disebut hebat. Yang hebat itu Allah Swt, cintailah Dia.

“Ingatlah Allah di waktu senang, dan ingatlah Allah di waktu sempit atau susah karena Allah sebaik-baik penunjuk jalan,” kata suaminya dan Ana memeluk kuat-kuat suaminya seperti anak pukang, sebagai tanda suka, cinta, sayang dan rasanya tidak mau berpisah sedetik pun dengannya. Tiba-tiba dia kembali teringat Pak Bon yang tidak mau menerima dirinya sudah menjadi istri Ustadz Daham. Walaupun dia sudah seminggu tidak pernah berkomunikasi, tetapi dirinya yakin Pak Bon yang pernah menjadi kekasih gelapnya itu senantiasa berusaha mencari jalan agar dirinya mau menemuinya. * Bersambung