N0.62

Diam-diam Mama Ana senang dengan menantunya yang baik dan alim, yang membuat Ana banyak perubahannya. Sudah tertib shalatnya dan malamnya belajar baca alquran dengan suaminya.

Intainew.com:CINTA adalah api yang ada di dalam hati, membakar hati yang dicintai. Cinta adalah lidah yang tidak henti menyebut nama kekasih sebanyak tarikan nafas. Ustadz Daham percaya itu, istrinya mencintai dirinya. Walaupun hatinya pernah tersentuh dengan Tini, logikanya Ana yang berada dalam hidupnya saat ini. Tidak adil rasanya kalau Ana mencintai sepenuh hati tidak diterima setulus hati untuk hidup bersama. Walaupun belum panjang langkah hidup bersama Ana, tetapi wanita ini banyak memberikan kepada diri dan batinnya. Dia pantas disayang, tidak akan berpisah kecuali mati.

Bagi Zuliana, sebulan hidup bersama dengan Daham, hatinya berkata jujur, Ana tidak sedikitpun ingin pisah dengan suaminya. Daham benar-benar ada tempat khusus di hatinya, seperti sudah banyak sekali yang diberikan lahir maupun batin. Suaminya mampu memberi makanan batin yang teramat nikmat dan lezat. Lima tahun hidup dalam gelap bersama Pak Bon tidak merasakan apa-apa kecuali fragmatisme saat tidur berdua. Dan memang uang dan harta cukup banyak yang diberikan kepada dirinya.

Kalaulah sekarang  ini diminta memilih, Zuliana mendekap suaminya. Tetapi untuk meninggalkan Pak Bon tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan. Pak Bon yang bersedia membayar dengan uang berapa saja, rumah, mobil tanah yang luasnya seribu hektare ada tanaman kelapa sawit di atasnya, sudah diurus hak miliknya menjadi milik Zuliana. Tidaklah gampang saja menolak kehendak Pak Bon yang merasa cintanya kepada Zuliana membuat hatinya menjadi buta untuk pindah ke wanita lain. Bahkan sudah bersumpah janji menunggu momen yang tepat menikahi Zuliana.

Bon menilai setelah istrinya meninggal dunia digergoti penyakit kanker menahun, inilh Saat yang tepat menikah dengan Zuliana. Dirinya telanjur menjadi sangat  tuli untuk  mendengar ada wanita lain yang berharap untuk hidup dengannya. Pak Bon mau cintanya dengan Zuliana berlabuh ke pernikahan, terserah bagaimana caranya. Apa yang dilakukannya atas petunjuk orang pintar, sampai habis air yang didoakan orang pintar itu diminumnya, seperti tidak ada reaksinya. Tidak ada  tanda-tanda Ana menghubungi dirinya. Bahkan mengangkat panggilan Pak Bon tidak mau.

Zuliana sudah mengatakan kepada Mama, kalau masuk yang nomornya ini, tidak usah diangkat.

“Atau tak usahlah Mama angkat kalau cuma nomor saja dan tak ada namanya, ya Ma…”
“Ya,” jawab mamanya mengerti. Seterusnya Zuliana mencium dan memeluk Mamanya tanda senang. Eh, belum pelukan lepas sudah berdering handphone Mama. Ana member kode dan aba-aba kepada Mamanya, jangan nomor itu diangkat.

“Matikan Ma,” kata Ana. Mama menurut apa kata Ana.

“Itulah orangnya yang suka mengganggu Ana. Dia suka sama Ana, tapi Ana nggak suka. Begitu Mama jodohkan Ana dengan Bang Daham, tidak ada lelaki mana pun suami Ana, kecuali Bang Daham,” tutur Ana menjelaskan. Hampir bersamaan dengan suaminya mengucapkan salam, kembali dari masjid. Ana menyambut suaminya dengan memeluk dan menciumi lelaki itu.

“Hus, ada Mama, Malu,…”. Diam-diam Mama Ana senang dengan menantunya yang baik dan alim, yang membuat Ana banyak perubahannya. Sudah tertib shalatnya dan malamnya belajar baca alquran dengan suaminya. * Bersambung