No.61

Ana mematikan handphone, Pak Bon menghubungi Mama Ana. Aduh cilaka kalau sampai Pak Bon membuka rahasia hubungan Ana dengan dirinya,…

Intainews.com:MENUNGGU makanan yang dipesan datang, Ana memanfaatkan kesempatan untuk banyak bicara kepada suaminya. Walaupun Ana sangat berhati-hati setiap ingin berkata. Dia tahu suaminya bukan tipe suka bicara blak-blakan. Suaminya selalu menjaga lidahnya setiap bicara dengan siapapun dan istrinya. Mendapatkan suami yang baik merupakan berkah. Tetapi bisa juga merupakan ujian bagi dirinya, apakah dia akan kembali di jalan sesat dan berkubang dengan lumpur dosa bersama Pak Bon. Ana merasakan untuk kembali ke jalan yang benar sungguh sulit. Namun tidaklah mungkin itu dibicarakan dengan suaminya. Ana pun bicara yang baik-baik saja.

“Bang,…jangan sampai mengganggu pikiran Abang,…kira-kira kapan bisa selesai buku karangan abang itu, maaf kalau Ana salah menanyakan soal itu,….”

“Ah,….tidak ada salahnya pertanyaan itu wahai istriku,…” kata suaminya dengan senyum. Mendengar jawaban sambil bercanda membat Ana mencubit lutut suaminya, yang spontan menyeringai kesakitan.

“Aduh, sakit Na,…”

“Mari biar Ana usap,…”

“Jangan,…jangan di sini mengsapnya, di rumah saja,…” Ana tertawa dan suaminya pun tertawa sampai kelihatan gusi dan lidahnya yang kemerah-merahan bersih.

“Pertanyaan Ana serius Bang, supaya kita ke kota mencari percetakan yang bagus.”
“Kalau mencari percetakan yang bagus, sekarang pun sudah bisa.”

“Kalau begitu, kita pergi ke kota besok, hari Sabtu. Kita berlibur di kota,…” Ana kelihatan senang sekali.

“Judulnya apa bang?”

“Nantilah Ana baca, dan kita buat bersama judulnya yang cocok dengan isinya dan menarik.”

Makanan yang dipesan pun datang. Suaminya memesan nasi pecal agak pedas, ditambah tahu dan tempe dengan minum air kelapa dingin. Ana memesan ikan kakap bakar, nasi putih dang gado-gado. Minumnya air jeruk asli pakai es. Mereka pun mulai menyantap makanan yang mereka pesan. Nyaris tidak ada percakapan masing-masing hanyut menikmati makanan yang mereka minta. Tiba-tiba handphone milik Ana berdering, dari Mama. Suaminya makan dengan tenang, sementara Ana lebih banyak diam mendengarkan percakapan Mama yang mengatan kepada Ana soal Pak Bon yang menghubungi Mama. Karena handphone yang spesial untuk Pak Bon tidak aktif. Dari cerita Mama Pak Bon mengaku atasan kerja Ana. Dia mengancam akan memindahkan kerja ke tempat terpencil atau dipecat karena sudah semakin sering tidak hadir.

“Itulah yang dikatakannya,” kata Mama.

“Abaikan saja ma, tidak apa-apa.”

“Mama takut kalau sampai kamu dipecat.”

“Tidak ma, tidak. Atasan yang ini memang tidak disukai karyawan lainnya. Oh ya, mama mau Ana bawan pecal Ma,…kami sedang makan pecal.”

“Ya, bawalah.”

Sebenarnya Ana mulai kecut hatinya. Dia tahu Pak Bon sudah mulai meneror dirinya melalui Mama. Saat suaminya bertanya, Ana mengatakan soal kantor.

“Ana ditanya atasan ke mana. Kawan-kawan bilang Ana sakit. Ada pekerjaan untuk ana yang mendesak.”

“Kalau soal pekerjaan dan penting ya kejakanlah dengan baik.”

“Ya bang, Senin nanti Ana kerjakan.” Kata Ana yang jantungnya dakdikdug. Bagaimana kalau Pak Bon membuka semua rahasianya kepada mama. *Bersambung