No.60

Ana berpikir, apakah ini jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan, untuk menghindari perbuatan dosa yang ditumpuk bersama dengan Pak Bon?

Intainews.com:ANA betul-betul tidak mengerti apa yang harus dilakukannya kini. Benarkah ini akibat perbuatan zina yang selama ini dilakukannya bersama Pak Bon? Perbuatan zina itu dosa besar, sekaranglah dia harus menanggung balanya. Mengapa bala ini datang saat dirinya sudah mendapatkan suami yang baik? Apa artinya saat dia akan menikah, pak Bon menyetujui, asal hubungan tidak putus, dan berjalan seperti biasa.

Lalu Ana dibolehkan menikah, tetapi dilarang untuk berhubungan badan. Sungguh dia tidak mampu memecahkan persoalan yang melilit dirinya. Apakah tidak sebaiknya dia ceritakan kisah busuk ini kepada suaminya? Oh..tidak. Akan bahaya dan mendatangkan bala lebih besar lagi. Dirinya akan diceraikan dan kembali dengan Pak Bon tanpa masa depan, walaupun banyak uang dan kaya raya sangat menyakitkan. Tidak, batinnya akan sakit dijadikan budak seks. Tidak akan lagi, dia berusaha sekuat hati tidak akan berpisah dengan suaminya.

Ana mematikan handphonenya, sebagai perlawanan. Lalu menyalakan handphone satu lagi yang spesial untuk mama dan suaminya. Ana menghubungi suaminya, agar menjemputnya di kantor. Kepada teman-teman sekantor dia mengatakan, lagi tidak enak badan. Padahal dia berusaha untuk lari dari kegalauan hatinya. Menurutnya dia merasa lebih baik berada di sisi suaminya. Kalaupun ada apa-apa dengan dirinya pastilah ada yang menolong. Tidak lama, Ana sudah melihat mobil yang disetir suaminya. Dari jauh suaminya sudah tersenyum. Ana membalas senyuman suaminya. Begitu masuk ke mobil suaminya bertanya.

“Kenapa cepat pulang Ana….”

“Tak enak badan Bang, pikiran Ana kacau.”

“Apa yang mengganggu pikiran Ana,…”

“Soal kerja Bang.”

“Kalau ada pekerjaan yang bisa abang bantu, biarlah Abang bantu.”

“Biarlah Ana kerjakan sendiri bang. Eh Bang kita jangan pulang ke rumah. Kita cari tempat makan dan minum yang tidak ramai dan enak.”

Suaminya mengikuti ke mana mobil diarahkan. Ana mendekat dan menjatuhkan kepalanya di bahu suaminya seperti anak musang yang jinak. Lelaki itu membiarkan istrinya bermanja-manja asalkan Ana senang. Belumn ada yang salah untuk dia harus menegur. Sebagai istri, Ana cukup baik dan suka bermanja-manja. Mobil diarahkan masuk warung yang menyediakan nasi pecal dan jus buah-buahan.

Begitu mobil berhenti dan mereka turun,  Ana mendekap lengan suaminya saat mencari tempat duduk di warung. Mereka memilih tempat di pojok. Orang-orang yang melihat wanita itu mengumbar kemesraan memaklumi, setelah melihat kuku-kuku tangan mereka masih berinai. Oh pengantin baru, desis pelayan warung itu saat mencatat makanan dan minuman yang mereka pesan.

“Ana, teman Abang sama-sama kuliah di Kairo, menelpon lagi,…”

“Apa katanya Bang?”

“Ya seperti yang lalu, meminta abang mengajar. Kawan-kawan mendirikan sekolah tinggi agama Islam di Jawa.”

“Abang terima,…?”

“Ya abang bilang abang bicarakan dulu dengan istri abang. Kan tidak mungkin abang tinggal Ana.”

“Tapi jangan ditolak dulu Bang, Ana masih menunggu jawaban atasan bagaimana kalau PNS Ana bisa dipindahkan,” tutur Ana.

Ana berpikir, apakah ini jalan terbaik yang ditunjukkan Tuhan, untuk menghindari perbuatan dosa yang ditumpuk bersama dengan Pak Bon? * Bersambung