No.59

Intainews.com:SETIBANYA di tempat bekerja, Zuliana menyalakan handphone yang sepesial untuk berhubungan dengan Pak Bon. Saat ini Zuliana berusaha untuk tidak lagi menyerahkan dirinya kepada Pak Bon. Hatinya sudah ingin untuk berpisah, namun dia masih sangat takut kalau Pak Bon mempermalukan dirinya. Bagaimana kalau Pak Bon datang ke rumah dan membuka perbuatan rahasia buruk bersamanya sebelum menikah. Apa jadinya kalau dia datang ke kantor?

Itulah yang selama ini dijaga Ana, memilih datang setiap Pak Bon membutuhkan dirinya, takut dibukanya hubungan asmara terlarang. Sekarang ini sudah tidak mungkin lagi dirinya bertemu dengan lelaki yang menjadi kekasih gelapnya. Zuliana sudah lebih menyayangi suaminya. Sudah merasa lelaki yang menjadi suaminya ada tempat khusus di hatinya.

Bahkan dalam dialog dengan dirinya sendiri, terasa dalam kebimbangan. Zuliana merasa apakah dirinya berterus terang kepada suaminya? Oh tidak. Tidak mungkin hal sangat buruk yang di lakukannya bersama Pak Bono harus dibuka sebagai sarat bertobat nasuha. Apakah dirinya bisa seperti pelacur yang masuk surga?

Seperti biasa Pak Bon menghubungi dirinya sore, handphone berdering, Pak Bon menghubungi Ana saat baru bangun tidur.

“Halo,…”suara Ana diusahakan selembut mungkin. Sementara Pak Bon seperti marah.

“Apakah kita sudah tidak bisa betemu lagi Ana…?” Pertanyaan Pak Bon tidak langsung dijawabnya. Ana menangis membayangkan kalau dia masih seperti dulu melayani Pak Bon setip saat, menjadi budak seks.

“Kenapa menangis Ana. Bilang saja, apakah kita bisa bertemu lagi atau tidak,…”

“Ana tidak bisa seperti dulu. Suami Ana mengajak Pindah ke Jakarta,…”

“Itu tidak alasan Ana,…kalau masih ada Bapak di hatimu di ujung dunia manapun kita bisa bertemu. Kita bertemu di Jakarta, atau terserah apakah Ana yang datang ke Medan. Bagaimana,….gampang kan…? Atau langkah yang terbaik menurut Bapak kita berdua meninggalkan Medan. Apa yang kita tunggu sudah datang, kita segera menikah,…”

“Kasih Ana waktu Pak. Biar Ana berpikir dulu,…”

“Berapa lama, satu hari atau,….seminggu, sebulan,…?

“Ana tidak bisa sebut berapa lama waktu berpikir,….”

“Saya tahu Ana,…kamu sudah melanggar janji kita. Kamu sudah serahkan tubuhmu untuk dia. Jadi pernikahan yang kamu bilang untuk menutupi hubungan kita, ternyata kau menikah dengan lelaki sesungguh hati.”

“Pak bisakah Ana minta ke Bapak,..”

“Minta uang, emas atau apa. Kalau uang dan emas tidak pernah kamu minta, tetapi tetap bapakberikan. Biaya perkawinan itu besar Ana, dan yang kamu nikahi pengangguran, hanya bermodalkan gagah dan ganteng, sehingga Ana yang bayar semuanya….iyakan? Oke, hari ini juga saya transfer…”

“Jangan, bukan itu Pak, sudah terlalu banyak bapak berikan untuk Ana.”

“Jadi minta apa?

“Ana mau, bapak tidak menunggu Ana lagi, seperti Ana mengikhlaskan Bapak menikahi perempuan lain, Bapak juga ikhlas melepas Ana. Apa yang kita jalani selama ini kita jadikan kenangan, untuk selanjutnya tidak saling menggangu dan membuka pada siapapun rahasia kita, Hanya Tuhan dan malaikatnya yang tahu pak,…”

“Kalau Tuhan saja tahu, kenapa manusia tidak boleh tahu. Itu terserah saya apakah membuka rahasia kita atau tidak. Istri saya sudah tidak ada saya tidak perlu malu dengan perbuatan kita. Kalau Ana mengambil keputusan kita berpisah, sama artinya suamimu yang dipanggil ustadz itu harus tahu bagaimana latar belakang istrinya yang busuk….”

“Pak!” putus hubungan melalui handphone diputuskan. Betapa takutnya Ana kalau sampai suaminya tahu. * Bersambung.