No.58

Ana mencubit perut suaminya sambil setengah berlari menuju kamar,…

Intainews.com:KENDATI sudah dijanjikan akan ditemukan dengan wanita cantik, dan bentuk tubuhnya tidak ada yang salah, Pak Bon yang sudah satu jam merebahkan kepalanya di kamar hotel mewah selama ini dirinya tidur dengan Zuliana, benar-benar dia tidak dapat memejamkan matanya. Apakah Karena dia mengambil kamar yang penuh dengan memori bersama Ana sangat membuat dirinya tidak dapat tidur.

Pikirannya terus dikepung oleh kenikmatan saat bersama Ana, kelezatan yang tiada tara saat tidur berdua. Terus,….terus,…terus. Semakin dia ingin menepis bayangan Ana, semakin terasa Ana kekasih gelapnya seperti ada di ruangan itu. Nah, Ana ada di kamar mandi. Oh dengan mengendap-endap dan berjingkat seperti yang dilakukannya, mengintip saat Ana tanpa sehelai benangpun mandi. Sekarang, dengan tidak sabar dibukanya pintu kamar mandi, ternyata tidak ada. Mungkin Ana ada di lemari dengan sengaja mempermainkan dirinya. Tidak ada, di bawah kolong ranjang, kosong.

Lelaki itu terduduk di tepi ranjang seperti patung yang tolol dan bodoh. Kemudian dia kembali sadar, dirinya sudah tersekap dengan bayangan Ana. Betapa bodohnya dirinya, tidaklah mungkin Ana mau meninggalkan dirinya, karena Ana butuh uang darinya, sebagaimana dia mendapatkan uang darinya selama ini. Ana tentu tetap akan datang kepada dirinya. Menurut pikirannya tidak ada hidup perempuan tidak memerlukan uang. Pak Bon meraba-raba, Ana sendiri yang akan menghubunginya. Kalau tidak, dia akan menghubunginya. tidak perlu mempertimbangkan ada suaminya. Dia pun merebahkan badannya seperti batang pisang yang tumbang.

Jam menunjukkan pukul 04.00 subuh. Zuliana sudah bangun, menyusul suaminya terjaga. Zuliana masuk kamar mandi, membersihkan diri dengan berjunup agar bisa shalat Subuh. Suaminya melihat sepintas saat Ana liwat di sampingnya berbungkus handuk dan air mengalir dari kepalanya yang basah. Suami istri kemudian basah kepala. Sesudah itu shalat subuh. Usai shalat subuh bersama-sama menyiapkan sarapan.

Di meja makan saling berpandangan, suaminya mengacungkan jempol untuk istrinya. Ana tahu ke mana arah kelakar suaminya, ia pun mengacungkan dua jempolnya sambil mengunyah nasi gorang. Keduanya tersenyum.
Usai sarapan, Ana mencubit perut suaminya sambil setengah berlari menuju kamar, untuk merias diri dan berangkat kerja. Daham juga harus buru-buru menyalakan mesin mobil dan membuka pintu pagar seterusnya mengantarkan Ana. Istrinya sekarang tidak perlu menyetir sendiri, pulang pergi diantar jemput suaminya. Setelah itu, di rumah suaminya meneruskan menulis sampai istrinya kembali dari kantor. Begitu senangnya Daham dengan pekerjaanya itu. Di buku ini segala pengetahuannya dicurahkan. *Bersambung