N0.57

Kalau perlu aku bawakan perempuan yang cantik kepadamu. Masih muda, anaknya baik-baik dan cenderung taat dengan agama yang dianutnya. Lumayan, selain jadi teman hidup dia bisa meluruskan hidupmu yang selama ini hidup kita miring dan bengkok,…”

Intainews.com:MALAM ini seperti hari-hari yang mereka sebut bulan madu yang panjang. Zuliana bagaikan diajak suaminya mengharungi gelombang garang membuat dirinya seperti melambung-lambung turun naik. Seluruh tubuhnya merasakan hanyut dan terbawa pada gelora asmara. Sampai pada satu titik tertentu otot dan nadinya terasa bedenyut kencang, bersamaan dengan suaminya yang ikut menikmati denyutan itu. Sehingga Zuliana dan suaminya terkulai bagai memenangkan pertempuran.

“Bang,…” tukas Zuliana pelan sambil memandangi wajah suaminya yang sedang tersenyum.

“Ana mau bilang apa,…”

“Abang hebat,…Ana sayang abang,…” kata Zuliana dengan jujur mengcungkan jempol. Suaminya tidak seperti Pak Bon yang gampang keok. Pak Bon hanya mampu menggarkan uang.

“Apakah ada tindak tanduk dan gerak-gerik abang beberapa hari ini yang menjadi bukti abang tidak menyayangi Ana?”

“Tidak ada, tapi Ana takut, nanti…Abang tidak menyayangi Ana lagi,….” Tutur Ana yang tiba-tiba merasa takut kalau suaminya akan meninggalkan dirinya saat dia tahu dan mendapat kabar angin tentang hubungannya dengan Pak Bon. Dari hidup bersama Daham beberapa hari ini, dia semakin takut berpisah.

“Kenapa melamun begitu?” Suaminya menegurnya saat pikirannya terganggu dengan Pak Bon yang sepertinya tidak mau melepas dirinya.

“Mengantuk”

“Ya sudah, marilah kita tidur,..” ucap suaminya sambil mengusap-usap kepalanya sampai keduanya tertidur lelap saling berdekapan.

Malam ini, Pak Bon masih berhadapan dengan orang pintar, bagaimana caranya agar Ana bisa meninggalkan suaminya, lebih menurut dengan apa yang diingini dirinya seperti yang lalu-lalu.

“Kayaknya, sudah semakin sulit mendapatkan Ana lagi,..”

“Kamu yang salah, kenapa kamu biarkan Ana menikah dengan orang lain. Ibarat burung sudah terbang tidak akan kembali ke tanganmu,” kata teman dekat Pak Bon.

“Tetapi tidak mungkin tidak ada jalan lain untuk membuat Ana kembali.”

“Kamu harus yakin. Minum air mineral yang diberikan Kakek itu setiap malam mau tidur sampai habis. Jangan lekas putus asa. Apalagi kau punya uang, harta berlimpah. Tidak susah untuk mendapatkan perempuan untuk menikah lagi sesudah istri meninggal dunia.”

“Tetapi aku mau Zuliana yang sudah berhubungan lama denganku…” Bon menegaskan.

“Kalau tidak bisa, apa kamu terus berharap sampai badanmu kering dan mati. Usiamu masih empat puluh. Itu masih muda bagi seorang laki-laki. Kalau perlu aku bawakan perempuan yang cantik kepadamu. Masih muda, anaknya baik-baik dan cenderung taat dengan agama yang dianutnya. Lumayan, selain jadi teman hidup dia bisa meluruskan hidupmu yang selama ini hidup kita miring dan bengkok, temannya menghibur.

Kali ini Bon memandang lurus ke wajah temannya pada pukul tiga dinihari di sebuah lobi hotel mewah di kota.

“Boleh juga itu. Apakah dia gadis.  masih perawan?”

“Oke besok kubawa kamu ke tempat yang bisa bertemu dia.” *Bersambung