N0. 51

“Oh tidak Ana, jangan berhenti bekerja. Biarlah abang sendiri di rumah tidak mengapa. Bekerjalah dengan baik dan jujur. Abang menghormati pekerjaanmu….” Keduanya kembali perpelukan hangat dan hanyut dengan kenikmatan…

Intainews.com:CUTI kerja Zuliana sudah habis. Besok, seperti biasa pagi-pagi sekali Zuliana sudah meninggalkan rumah untuk mengikuti apel pagi dan bekerja. Seharian ini Zuliana dan suaminya lebih banyak di rumah, mendekam di kamar berdua. Berkasih mesra bagaikan sepasang merpati yang jatuh cinta. Keduanya semakin dekat dan tidak ada kecagungan. Apa saja yang dimaui Zuliana dikatakan langsung kepada lelaki yang bebaring di sebelahnya, tanpa basa-basi. Zuliana tidak merasa tabu saat seorang perempuan ingin bercinta, mengungkapkan terus terang kepada suaminya.

Berulang kali Zuliana mengungkapkan hal itu kepada suaminya. Untungnya suaminya tidak keberatan, dia selalu siap melayani permintaan dan kemauan istri yang merupakan kenikmatan baginya. Dan perlahan-lahan ustadz mengatakan yang terbaik menurut agama jika istri berserah diri minta didatangi suaminya.

Menjalani bulan madu adalah sesuatu yang paling menyenangkan dan nikmat bersama menghirup kelazatan duniawi. Sekaligus, di dalam kamar direncanakan apa saja yang menjadi cita-cita suami dan istri. Bagi ustadz Daham dia berjanji dengan diri sendiri tidak hidup dengan penghasilan istri. Sebagai laki-laki dia harus punya pendapatan untuk menghidupi keluarganya kelak, yang akan hadir anak-anak dari perkawinan mereka.

Dengan menulis buku yang akan diterbitkan istrinya dia senang sekali. Dan suatu hari tatkala sudah menghasilkan akan mengembalikan setiap sen yang dikeluarkan untuk buku merupakan karya tulisnya.

“Bang, mengapa Abang melamun, apa yang abang pikirkan?”

“Oh, Ana tidak apa-apa,…”

“Barangkali soal Ana besok sudah mulai kerja, Abang sunyi sendiri di rumah,….”

“Tidak Ana, Abang bisa fokus menulis, supaya lekas selesai buku kita,…” Begitu kata Daham sambil mengelus tangan istrinya.

“Mungkin Abang merindukan Bunda?”

“Abang besar di pesantren dan dewasa di universitas Kairo,….” Ana menyela ucapan suaminya

“Bedalah kalau abang tidak berdampingi dengan Ana,…”

“Ya, mungkin saja begitu. Sekarang sudah ada Ana di sini,” suaminya menunjuk tengah dadanya. Mendengar itu Ana memeluk kuat suaminya. Keduanya berpelukan lama.

“Bang Ana bekerja tidak lama, sebelum Ashar Ana sudah di rumah. Kecuali kalau ada laporan yang diselesaikan, Ana bisa pulang pagi. Atau Ana berhenti kerja Bang? Ana sadar sekarang sudah istri Abang, kalau Abang minta Ana berhenti, supaya kita terus bersama seperti ini, Ana menurut apa kata Abang,…”

“Oh tidak Ana, jangan berhenti bekerja. Biarlah abang sendiri di rumah tidak mengapa. Bekerjalah dengan baik dan jujur. Abang menghormati pekerjaanmu….” Keduanya kembali perpelukan hangat dan hanyut dengan kenikmatan yang diberikan-Nya dengan perkawinan yang diatur ayat-ayat percintaan. *Bersambung