N0.49

Intainewscom:Tidak ada orang kampung tempat tinggal Zuliana yang menduga, seorang pegawai negeri sipil golongan rendah bisa menjadi kaya raya dan mendapatkan jodoh pemuda yang gagah tamatan Kairo. Bahkan lelaki itu kelihatan menyayangi dan mencintainya. Pengantin baru ini usai shalat subuh berjalan kaki mengitari kampung berdua untuk berolahraga. Setiap orang kampung yang bertemu, Daham selalu mengangguk hormat dengan senyum mengucap salam yang diikuti oleh istrinya.

Berbahagialah Zuliana mendapatkan lelaki baik dan taat beragam, yang mengajarkan kepada Zuliana bagaimana sesungguhnya orang beriman. Dalam perjalanan mengelilingi kampung Zuliana dan suaminya selalu bercerita tentang kehidupan. Zuliana selalu mendengarkan petuah-petuah kehidupan dan pandangan-pandang hidup yang islami. Zuliana merasa lebib bebas berdua dengan suaminya, setelah Pak Bon memberitahu istrinya sekarat dengan penyakit kanker stadium tinggi yang dideritanya. Kini sedang berada di Penang Malaysia.

Dengan kondisi itu Pak Bon mengatakan dirinya jangan diganggu, dan tidak usah bertemu.
Bagi Zuliana tidak mengapa, karena baginya menghabiskan cuti bisa berbulan madu dengan suaminya, sekalipun Pak Bon berulangkali mengingatkan dirinya agar tidak menyerahkan mahkotanya kepada suaminya, karena itu menjadi milik Pak Bono. Bagi Zuliana apa yang dilakukannya di peraduan bersama suaminya adalah sah dan halal, karena dia sudah menikah dengan resmi. Sebelumnya berulangkali Zuliana minta dinikahi Pak Bon, namun jawabannya selalu menunggu, sampai sudah hampir lima tahun dia tidur bersama lelaki yang istrinya sakit dan tidak mampu berbuat banyak.

“Bang, abang masih menulis buku agama itu,…”

“Ya, ada apa Ana,…?

“Kalau sudah banyak tulisan itu buat apa?” Ana ingin tahu apa yang dikerjakan suaminya.

“Insya Allah kalau ada orang yang punya uang mau menerbitkannya menjadi buku. Atau kalau kita dilapangkan rezeki, kita terbitkan. Supaya isinya bisa dibaca umat dan itu bagian dari syiar,” kata Ustadz Daham.

Dalam diam sambil berjalan dengan suaminya, Zuliana memikirkan, apa untungnya mencetak buku itu. Apakah buku itu bisa laku kalau dijual, karena Zuliana tahu banyak sekali buku-buku agama ditoko buku dan mall tidak laku.

“Bang maaf, jangan marah ya…Apakah bisa menguntungkan dan dapat duit kalau tulisan Abang itu diterbitkan?”

“Untung rugi dalam hidup ini sudah ada yang mengatur…” jawab suaminya sambil tersenyum. Bersamaan langkah mereka sudah sampai di rumah. Zuliana memeluk suaminya, Daham membalasnya.

“Sudah kita mandi dulu biar bersih, bau kringat…” ucap Daham.
“Biarlah, tidak mengapa…” kata Zuliana yang dikuasai hasrat geloranya.
* Bersambung