No.48
“Tuhan yang mengatur segalanya, bisa suatu saat kalian bersatu dengan jalan apa saja. Tapi sebelum itu terjadi persiapkan dirimu untuk menjadi orang yang berhasil.”

Intainews.com:UNTUK menghindari orang-orang kampung yang tahu kasus tindak pidana kekerasan Bunda tidak dipores hukum, Bunda minta dirinya diuruskan untuk bisa bekerja di luar negeri. Terserah, apakah di Tiongkok, Taiwan, Malaysia atau dimana saja. Mendengar itu Daham mengatakan kepada Bundanya, buat apa bekerja ke luar neger, selain sudah tua, banyak sudah kejadian nasib tenaga kerja wanita yang mengenaskan.

Namun Bunda tetap mau jadi tenaga kerja wanita di luar negeri, untuk menghindari orang-orang yang tahu kasusnya memukuli Tini dihentikan. Daham tidak menampik, yang bisa menjadi ribut, malu dengan mertua dan istrinya. Daham menghubungi Haji Sardan siapa tahu dia bisa mendapat informasi di mana mengurus untuk menjadi Tenaka Kerja Wanita (TKW) di luar negeri. Haji Sardan bersedia mengurusnya. Bunda diminta mempersiapkan surat yang diperlukan.

Pagi menjelang siang ini, Daham dan Zuliana pergi bersama naik mobil yang disetir Zuliana. Untuk membelikan suaminya handphone. Sekalian untuk dirinya, agar mudah berkomunikasi dengan Pak Bon supaya tidak menelpon ke Mama untuk bicara dengan dirinya. Agar hubungan dirinya tetap menjadi rahasia.

“Bang kapan abang belajar menyetir mobil, biar mobil abang yang bawa,” kata Zuliana kepada suaminya.

“Ya, terserah saja. Kalau di Arab anak-anak belajar menunggang kuda, kita sekarang belajar mobil.

“Ini mobil punya kita Bang, punya bersama, jangan canggung-canggung.”

Saat yang sama hari ini Tini di kota  batinya masih terus terbawa oleh Daham. Sekalipun tipis harapan untuk bisa bersatu dengan laki-laki yang sudah menikah dengan wanita lain, namun Tini masih suka melamun dan berurai air mata. Teman akrabnya Lies dan Pida masih terus memberi semangat.

“Tuhan yang mengatur segalanya, bisa suatu saat kalian bersatu dengan jalan apa saja. Tapi sebelum itu terjadi persiapkan dirimu untuk menjadi orang yang berhasil.”

“Ialah. Terimakasih,”jawab Tini mengangguk pelan.

“Ya,…tapi jangan sedih terus begitu….”

Lies dan Pida mengatakan itu di kantin kampus di mana Lies dan Pida kuliah. Menyusul Tini yang mulai bersiap untuk mendaftarkan diri. Walaupun dia berada satu tingkat dengan Pida dan Lies tak jai soal. Tini mengambil jurusan sastra Inggris. Dia mengatakan akan melanglangbuana ke seantero bumi. Selanjutnya tiga gadis ini berjalan bergandengan tangan keluar dari kampus, bergembira menangkap cakrawala. * Bersambung