N0.47

“Tidak apa-apa Ma, kita ambil hikmahnya, yang penting sama-sama kita menjaga keseimbangan. Kalau memang sibuk bekerja silakan saja. Kalau ada waktu libur kita bersenang-senang, berwisata rohani.”

Intainews.com:Istrinya terus berusaha agar suaminya menjawab. Kalau tanda sayang istri bukan di pinggang, jadi di mana? Daham akhirnya menjawab dengan telunjuknya ke arah dada. Zuliana yang penasaran kembali mencubit paha suaminya. Bunda dan Mama sama-sama melihat kejadian di meja makan itu membuat keduanya senang. Mereka terus menyaksikan canda ria suami istri pengantin baru ini. Mama Zuliana mengatakan kepada Bunda Daham, selama ini dia menyangka Ustadz Daham adalah pendiam, ternyata tidak. Saat keduanya sedang bercanda dan bermesraan, Mama memberikan handphone ke Zuliana, biasa dari bos, begitu kata Mama.

Berdesir darah Zuliana, Pak Bon menghubunginya melalui HP mama, karena HP Zuliana tidak aktif. Ustadz Daham hanya melihat istrinya menerima telephone menjauh dari dirinya. Daham tidak berkata apa-apa, sekalipun dia tanda tanya. Zuliana mengatakan kepada Pak Bon yang menagih janjinya, hari ini tidak bisa bertemu, masih banyak saudara di rumah. Pak Bon bertanya, apakah Zuliana masih memegang teguh janjinya untuk menyerahkan mahkotanya kepada suaminya.

“Ya,…ya pak masih. Tapi Ana sedang hait,” tutur Zuliana berbohong.

“Berapa hari baru habis, dan kita bisa ketemu?

“Seperti biasa,…paling seminggu Pak.

“Baik, baiklah. Kalau ada keperluan apa-apa hubungi saya,…”

“Iya pak. Tapi jangan hubungi Ana melalui HP mama.”

“Lho HP kamu tidak aktif terus, jadi bagaimana saya menghubungi Ana,…. Saya kan rindu…”

“Ya sudah,…nanti begitu sudah bersih Ana yang hubungi bapak.”

Hubungan telepon putus. Ana kembali ke meja makan dan menyerahkan HP ke Mama.

“Bosmu mau apa apa Ana,…”

“Biasalah ma,…. Bos  mengatakan dia sedang di Filipina, tidak bisa datang di acara perkawinan kami. Salam dengan suami, katanya Bang. Dia bertanya kapan habis cutinya, karena banyak pekejaan di kantor membuat laporan keuangan untuk laporan ke Badan Pemeriksaan Keuangan, yang bisa membuat itu cuma Ana..Jadi begitulah Bang yang namanya kita bekerja,…” ujar Ana ke arah suaminya sambil menyentuh telapak tangan suaminya.

“Kalau sekarang ini, kesibukan bekerja lebih baik, dibanding tidak punya pekerjaan,” ungkap Daham jujur.

“Tapi, bilang sama Bosmu Ana, sesudah berumahtangga ini harus mengurus suami. Jadi tidak terus sibuk dengan pekerjaan hingga lupa dengn kewajiban istri, begitu kan….”  Sebut Mama ke arah suami Ana.

“Tidak apa-apa Ma, kita ambil hikmahnya, yang penting sama-sama kita menjaga keseimbangan. Kalau memang sibuk bekerja silakan saja. Kalau ada waktu libur kita bersenang-senang, berwisata rohani.”

“Apa itu bang wisata rohani?”

“Kita ke pengajian-pengajian, ke tempat-tempat ceramah agama. Jalan-jalan ke masjid-masjid bersejarah dan shalat berjamaah.”

“Mengaji biar abang yang mengajari Ana,…buat apa ke pengajian-pengajian lainnya,…”

Mama Zuliani senang sekali mendengar itu. Namun Zuliana terus juga membayangkan kalau Pak Bon terus saja menelpon dirinya. Oh, dia ada akal. Membeli HP satu lagi yang khusus untuk berhubungan dengan suaminya. Sedangkan nomor HP-nya yang lama tetap untuk berhubungan dengan Pak Bon disebut kepada Mama nomornya hilang tak bisa lagi dipakai, jadi ganti nomor. Jadi semua akan menghubungi ke nomor barunya. Padahal dengan nomor lama disimpan. Inilah jalan untuk mengelabui suaminya. *Bersambung