N0.46

“Adakah yang melarang, kalau abang memandangi Ana sekarang ini?”
“Tidak ada Bang. Abang pun tidak menolak dipegang tangannya seperti ini,” Zuliana memegang lengan kiri suaminya dan mendekap ke dadanya.

Intainews.com:PENGANTIN laki-laki, terseret oleh gelora Zuliana yang ingin menikmati kehidupan yang baru, tidak hanya bersama satu lelaki. Dia merasa sudah membayar mahal laki-laki ini. Dia ingin mendapatkan lebih jauh dari laki-laki yang sudah benar-benar menjadi haknya. Dia menuntut kewajiban Daham setelah menjadi suaminya untuk memenuhi kebutuhan geloranya malam mini. Daham ternyata hanyut dengan keinginan Zuliana, dia merasa apa yang menjadi tuntutan Zuliana menjadi kewajibannya. Tinggallah Tini di bawah kepentingan gelora jiwanya yang terbangun oleh sapuan dan elusan cinta Zuliana. Bersama bulan merangkak meninggi menuju barat, keduanya tenggelam menikmati malam yang kini menjadi kebutuhan bersama.

Setelah tiba irama di puncak asmara, keduanya diserang kantuk yang luarbiasa. Tertidur pulas dalam pelukan malam. Sampai menjelang subuh, Daham terbangun lebih awal. Dia menyentuh tubuh istrinya untuk segera bangun, mandi dan shalat. Ini yang sangat berbeda dirasakan Zuliana. Pertama kali ia dibangunkan lelaki untuk mandi, lalu menyembah Allah Swt. Berat terasa di mata, namun ia bangun juga, agak setengah terpaksa. Daham memberinya sedikit senyuman membuat Zuliana bergegas bangkit.

Sambil menunggu suaminya yang masih di kamar mandi, Zualiana kembali merebahkan tubuhnya barang sekejap. Terbayang sekilas Pak Bon yang selama ini tidur bersamanya, tidak seindah dia berdua dengan suami. Begitu melihat suaminya keluar dari kamar mandi, Zuliana begegas bangkit dari ranjang. Setengah melompat menuju kamar mandi. Mengguyur sekujur tubuhnya dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Betapa dinginnya terasa, mandi subuh dengan air yang sejuk. Setelah mandi usai, suaminya pamit hendak ke masjid. Begitulah hari pertama dilalui Zuliana bersama suaminya.

Bunda dan Mama Zuliana juga sudah bangun, keduanya melaksanakan shalat subuh. Seterusnya bersama famili Mama Zuliana menyiapkan nasi goreng, dan memanaskan rendang daging sapi untuk sarapan Daham dan Zuliana serta sanak keluarga yang masih berada di rumah Zuliana mencuci segala peralatan yang kotor. Zuliana menyiapkan sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi dan rending di atas meja. Bunda mengatakan, Daham pagi biasa minum susu. Zuliana segera membuatkan susu untuk suaminya. Tidak lama suaminya kembali dari masjid, bersamaan matahari menampakkan cahayanya, berdua mereka sarapan.

Zuliana belum mau mengaktifkan handphone-nya, takut kalau Pak Bon menghubunginya saat dirinya bersama suaminya. Berulang-ulang sambil sarapan Daham memandangi istrinya. Kata orang melihat seorang wanita cantik atau tidak saat pagi-pagi sebelum berhias. Batinnya berkata:Manis juga istriku ini, sekalipun tidak secantik dan seindah Tini.

“Kenapa abang memandangi Ana seperti itu? Ana malu Bang,…” kata Juliana manja dan menjatuhkan kepalanya yang masih basah ke bahu suamniya, menyebabkan baju koko suaminya ikut basah.

“Adakah yang melarang, kalau abang memandangi Ana sekarang ini?”
“Tidak ada Bang. Abang pun tidak menolak dipegang tangannya seperti ini,” Zuliana memegang lengan kiri suaminya dan mendekap ke dadanya.

“Kalau itu boleh. Tidak apa Ana,…”

“Kenapa Bang?”

“Kalau tangan kanan Abang dibuat seperti itu tidak bisa Abang makan,….” Ujar Daham sambil tersenyum dan Zuliana tertawa lebar sambil mencubit pinggang suaminya. Dicubit di pinggang suaminya tidak geli dan tersentak.

“Kata orang Bang, kalau dipegang pinggang tidak geli tidak sayang istri,…”
“Siapa bilang, sayang istri bukan di pinggang, tapi……” Daham sengaja tidak melanjutkan, membuat Zuliana penasaran.

“Jadi di mana Bang?” * Bersambung