N0.45

Malam semakin larut, tidak ada lagi bunyi-bunyian atau musik, segalanya menjadi sunyi. Zuliana kelihatan lebih agresif, Daham menyambutnya pelan dan mesra, di kamar pengantin…

Intainews.com:KETIKA Haji Sardan agak penasaran dengan apa yang dilakukannya, ia kembali mengejar ke mana perginya Tini, namun wanita yang merasa cintanya telah patah, tamat dan tidak mungkin bersambung kembali dengan Daham sudah menghilang. H Sardan, dan istrinya serta anak-anak muda tetatangga yang ikut mengejarnya hanya menemukan karung berisi bekas minuman mineral yang tadi dibawa Tini.

Tini dilarikan dengan mobil yang disetir Lies ditemani Pida. Mereka meninggalkan lokasi pesta perkawinan, membawa luka hati Tini. Di dalam mobil, Lies dan Pida tidak bosannya menasihati Tini. Gadis itu hanya senyum getir dan mengalirkan air mata.

“Sudahlah, sayangku. Semua sudah kau buat sampai penyamaran ini, hanya untuk membuktikan segalanya sudah terjadi atau cuma mimpi. Nyatanya segalanya benar. Buat apa kau pikirkan lagi,…ayolah bergembiralah seperti jauh sebelum ini,” begitu kata Lies, sambil menyetir mobil. Lalu Pida memeluknya.

“Iya Lies, jangan lupa cari restoran, kita makan dan Tini mandi, berganti pakaian, sandiwara sudah tamat. Kita pikirkan nasib kita ke depan. Kita baru melihat guru mmengajimu itu sampai di sini, besok atau lusa hidupnya belum tahu,…” Tini masih diam saja, air matanya berlinang membayangkan Ustadz Daham bersama wanita yang dipilih Bundanya menjadi istrinya.

Di antara semua yang dikatakan Bu Haji dan Pak haji Sardan agar lebih banyak bersabar menghadapi peristiwa ini, sepertinya berat sekali untuk jiwanya yang rapuh. Dari berbagai masukan melalaui teman-teman karibnya, Pida dan Lies, Tini masih terus menyimpan benih cinta Ustadz Daham di hatinya. Apa yang disaksikannya, mencambuk jiwa Tini untuk berjuang keras mencapai puncak mendapatkan kembali cintanya yang pergi.

“Waktu aku ke rumahmu bersama Pida, kami berdua sudah merasa kau sangat menyukai ustadz itu. Walaupun sudah kami ganggu biar kami saja yang menjadi kekasihnya, dari wajahmu kami tahu kau cinta berat dengan ustadz yang ternyata menepismu dengan menikahi wanita paling kaya.”

“Hayo kita makan enak, mereka bisa membayar mahal makan enak, kita bisa dapatkan kenikmatan.” Tini tersenyum, mendengar ucapan Pida. Dia sudah membersihkan diri dari penyamaran, kecantikannya sudah pulih, namun hatinya masih terluka dalam sekali.

Hampir tengah malam, pesta perkawinan yang megah dan meriah mulai menunjukkan tanda-tanda usai. Zuliana duduk berdua dengan suami di kamar pengantin. Kendati lelaki yang memberinya uang dan harta berpesan kepada zuliana, boleh melakukan bentuk-bentuk kemesraan seorang pengantin di depan para tamu dan keluarga, silakan. Tetapi untuk bagian tubuhmu yang vital yang selama ini mereka nikmati berdua bersama hati Zuliana jangan berikan kepada siapapun itu.

Semua pesan itu tak berguna bagi Zuliana. Sejak suaminya mengecup keningnya usai pernikahan, dia sudah bergelora merasa ingin susana cepat berubah menjadi malam, di mana pengantin untuk yang pertama kali tidur bersama muhrim. Daham boleh mimpi dengan Tini, namun faktanya ada Zuliana di hadapannya, yang sudah mulai menyiapkan diri untuk naik ke peraduan bersama Zuliana laksana magnet bagi lawan jenisnya. Malam semakin larut, tidak ada lagi bunyi-bunyian atau musik dan suara-suara, segalanya menjadi sunyi. Zuliana kelihatan lebih agresif, Daham menyambutnya pelan dan mesra, di kamar penuh wewangian lembut. * Bersambung