N0-44

Tini menyamar jadi pemulung yang kumal dan jorok, untuk bisa menyaksikan pernikahan Ustadz Daham. “Ya Allah,…kenapa kau begini Tini?” Tanya Bu Haji yang dijawab dengan tangisan, selanjutnya melangkah pergi,…..

Intainews.com:MENJELANG makan siang pasangan pengantin dikeluarkan, disandingkan untuk disaksikan para tamu undangan. Tidak sedikit orang saling berbisik dan bergunjing, banyak yang memuji pasangan yang matang dan cukup dewasa itu. Ada yang menyebut, beruntungnya Zuliana mendapatkan suami yang ganteng gagah dan pintar. Laki-laki itu mendapat istri kaya, yang uangnya tidak berseri. Tapi, ada yang berbisik pula, menceritakan betapa ruginya laki-laki yang mendapatkan Zuliana, adalah gadis bukan perawan. Tetangga yang juga teman sekolah Zuliana, tahu betul  Zuliana menjadi simpanan pejabat. Ini pernikahanl lelaki baik-baik, dengan wanita sampah.

Di antara pesta meriah dan gemerlap ini,  Tini menyaksikan guru mengajinya, Ustadz Daham yang mengatakan jatuh hati kepada dirinya, dengan gampang membalikkan telapak tangan meninggal dirinya dan menikah dengan wanita lain. Seorang pemuda yang bertugas sebagai keamanan memperhatikan gerak-gerik wanita kumal saat berada semakin dekat dengan pengantin sedang memandangi mempelai laki-laki. Seandainya dia yang berada di sisinya, alangkah bahagianya. Sesaat kemudian segalanya lenyap. Tini diseret menjauh dari lokasi pengantin. Bersama air mata Tini mengatakan dirinya lapar, sebagai alasan supaya dirinya bisa lebih lama di tempat ini. Melihat kejadian itu Bu Haji mengambilkan makanan untuk pengemis itu

“Di mana rumahmu,” pemuda bertanya dengan suara keras. Apakah puya keluarga? Semua pertanyaan dijawab dengan gelengan kepala oleh Tini yang tidak ingin penyamarannya terbongkar. Sesungguhnya pengantin pria sempat melihat saat Tini diseret menjauh. Namun dia tidak mengenalnya. Daham berbisik kepada istrinya supaya tidak diperlakukan kasar perempuan itu.

“Ah, biarlah perempuan gila itu diseret menjauh, daripada buat rusuh di sini bang,” kata Zuliana. Tak lama Bu Haji, istri Haji Sardan membawakan nasi dengan lauk rendang daging ke perempuan yang disebut Zuliana perempuan gila itu.

“Ini ambillah, makanlah,” kata Bu Haji sambil memandangi wajah perempuan kumal dan kotor itu. Namun, giginya tersusun rapi dan sangat bersih, seperti dikenalnya. Kuku-kuku jari tangannya panjang dan rapi. Juga kuku kakinya. Dalam hati bu Haji berkata, mungkinkah…..ah dia tidak meyakininya kalau yang dilihatnya adalah Tini , karena Tini sudah diantarkannya ke kota. Tini yang tahu dirinya diperhatikan berlama-lama oleh Bu Haji membuang mukanya dan menunduk dalam-dalam sekali.

Haji Sardan yang sejak tadi memperhatikan istrinya terus tidak jauh dari wanita pemulung itu, mendekati Bu Haji. Ketika Bu Haji dan Haji Sardan mendekat ke arah Tini, perempuan itu melangkah pergi meninggalkan makanan yang diberi Bu Haji tanpa disentuhnya. Makin cepat Haji Sardan mendekat, makin cepat Tini berlari. Dua pemuda melihat Haji Sardan mengejar orang gila, lalu menangkap perempuan itu. Tini meronta, tetapi pegangan Haji Sardan begitu kuat. Bu Haji mendekat, akhirnya diketahui perempuan pemulung itu adalah Tini.
“Ya Allah,…kenapa kau begini Tini?” Tanya Bu Haji yang dijawab dengan tangisan, selanjutnya melangkah pergi. Ketika anak-anak muda menahannya,….

“Sudah biarkan dia pergi…”

“Bapak kenal dia,….”

“Sudahlah,…dia orang baik-baik,…” kata Haji Sardan dan melihat Tini semakin jauh dan menghilang. * Bersambung