NO.43

Tidak seorangpun tahu, Tini datang ke pesta perkawinan meriah itu, dia ingin tahu bagaimana air muka Ustadz Daham, apakah menikmati perkawinan itu? Tini menyamar sebagai pemulung kumal dan jorok.

Intainews.com:DI SAAT Ustadz Daham berhadapan dengan suasana ramai penuh kemeriahan malam mini, adalah saat paling bahagia bagi anak manusia menaiki tahta perkawinan, hari bersejarah penuh keriangan, namun tidak sedikitpun terasa bagi Daham semua kegembiraan itu. Dia mengalir bagai air mengikuti liku-liku peristiwa kehidupan yang dilaluinya bersama doanya agar di muara nanti masih dipertemukan dengan kekasihnya, Tini.
Begitu kata hati lelaki yang kini ditempatkan di rumah keluarga Zuliana, yang sebentar lagi berangkat diiringi para keluarga ke rumah Zuliana untuk menikahi wanita itu. Lalu dia disandingkan bagai raja sehari. Tidak ada keriangan, semua prosesi perkawinan dijalaninya dengan hambar. Sekalipun teman-temannya mengatakan dirinya hebat mendapatkan wanita pegawai negeri yang kaya. Mereka pun mengacungkan jempol. Daham hanya tersenyum dan tertawa saat Bunda berada di dekatnnya.

Jauh berbeda dengan Zuliana yang kelihatan manis sekali menjelang pernikahan. Pikiranya penuh, dirinya segera menjadi seorang isteri untuk seorang lelaki muda yang tinggi ilmu pengetahuan agamanya. Handphone sudah dimatikan di deti-detik pernikahan. Kini dirinya seperti mimpi didampingi seorang lelaki terhormat yang tampan dan gagah segera mengucapkan ijab kabul untuk dirinya. Saat detik itu datang, Daham tidak kelihatan gugup atau sress sedikitpun. Dia cukup tenang mengucapkan ijab Kabul, sehingga semua saksi menyatakan sah!. Zuliana langsung menyalami lelaki yang kini sudah resmi di hadapan Tuhan menjadi suaminya. Mencium tangan Daham sepuas hati, ditambah oleh Daham mengecup keningnya. Zuliana tersirap darahnya, tidak menyangka, ternyata Daham menyayanginya.

Padahal itu dilakukan Daham ketika mata Bundanya terus menyorot ke Zuliana dan dirinya.
Sanak famili, keluarga, tamu dan handai taulan mengucapkan rasa syukur, alhamdulillah diucapkan kepada Tuhan menyaksikan adegan itu sambil memotret. Haji Sardan ikut bersyukur namun terbersit dalam pikirannya. Kalau saja Tini melihat adegan ini betapa hancur luluh hatinya. Bu Haji, sudah lebih dulu tidak sanggup menahan kesedihan saat hatinya membayangkan Tini di Kota. Istri Haji Sardan ini menghapus air matanya dengan tisu di depannya saat sepasang pengantin baru ini menyalaminya.

Bunda Daham merasa sangat bergembira, lidahnya yang basah mengucapkan alhamdulillah atas keberhasilannya menjodohkan putranya dengan Zuliana. Apalagi di matanya kelihat Daham bisa menerima Zuliana menjadi teman hidupnya, terbukti dengan kemesraan yang dilakukan sepasang pengantin baru itu.

Tetapi tidak seorang pun ada yang tahu di antara keramaian pernikahan itu, di dekat pedagang mainan anak-anak, duduk seorang wanita kumal dan rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang air mineral dan satu cucuk bakso kojek. Tangan sebelahnya memegang karung tempat bekas air mineral. Dia adalah Tini, yang sesungguhnya dia tahu dari teman sekampung sepengajiannya di musala. Bahwa Ustadz Daham yang mengajar mereka mengaji, hari ini menikah dengan wanita yang dijodohkan Bundanya. Tini ingin memastikan pernikahan itu, dan ingin tahu bagaiman jiwa Ustadz Daham saat menikahi Zuliana. Tini menyamar sebagai pemulung yang sangat buruk dan jorok, untuk tahu semua peristiwa yang menimpa dirinya ini. *Bersambung