No.42

Oh,… mulai terasa tidak percuma rasanya bermenantukan Zuliana yang baik hati dan kaya raya. Daham mengucapkan terimaksih perlahan, hampir tidak terdengar dan mengantongi uang yang diberikan calon istrinya.

Intainews.com:DI KANTOR Polisi Bunda sedang berbincang dengan Kepala Polisi Sektor (Kapolsek), didampingi anaknya Daham. Calon suaminya melihat kedatangan Zuliana, lalu membuang muka. Kembali Daham mendengarkan pesan-pesan Kapolsek. Bapak Kapolsek melihat kedatangan Zuliana langsung memutuskan pembicaraannya dengan Bunda dan Daham. Zuliana duduk di sisi Daham. Bunda langsung mengenalkan calon menantunya yang menyalami Kapolsek.

“Ini calon istri anak saya ini. Lusa mereka berdua disandingkan,..Pak,” tutur Bunda senang.

“Ya, sudah. Ibu sudah bisa bebas dan menyaksikan penikahan mereka,…”

Bunda kelihatan sangat gembira dan menyalami tangan Pak Kapolsek dan menciumnya.

“Jadi makanan yang Ana bawa Bunda, bagaimana…?” Sebelum dijawab Bunda Kapolsek berkata.

“ Ya, di makanlah sudah siang,” kata Kapolsek. Sebelum Kapolsek bergerak pergi karena sudah mengenakan topi dinas, Zuliana menahannya.

“Tunggu dulu Pak, saya ambilkan undangan untuk bapak dan ibu.” Sebelum Kapolsek berkata apa-apa, Zuliana berlari ke arah mobil mengambil undangan. Tak lama Ana sudah kembali membawa sepuluh undangan dicetak di kota dengan cukum lux.

“Ini undangan untuk bapak dan ibu, yang ada tulisannya. Ini untuk anggota bapak supaya ramai-ramai datang ke pesta perkawinan kami,” begitu kata Ana sambil menyandarkan

kepalanya ke bahu Daham. Lelaki itu tersenyum mengangguk menyetujui perkataan Zuliana. Di depan Bunda apapun yang terjadi dan dialami sekarang ini dia harus patuh.

Selanjutnya mereka bertiga menuju pohon kelengkeng sedang berbuah di depan kantor Polsek, mereka akan makan bersama memenuhi permintaan Bunda, makan di bawah pohon. Ana mengambil kertas koran di mobil. Daham mengambil tempat cuci tangan, sendok dan piring dari dapur. Selanjutnya mereka mulai mengambil nasi. Zuliana mengambilkan nasi untuk Bunda.

“Biar Bunda ambil sendiri, ambilkan saja untuk abangmu.” Ana mengerti mengambilkan nasi dan lauk untuk calon suaminya. Bunda dan Ana makan dengan lahap. Cuma Dahan yang makan seperti tidak bersemangat.

“Makan yang kenyang nak, supaya sehat, “ kata Bunda. Daham mengangguk den menyunggingkan senyum terpaksa.

“Tidak ada lagi yang menjadi pikiranmu nak, Bunda sudah bebas. Supaya orang-orang kampung tahu, kita tidak bisa dihukum,” tutur Bunda dengan bangga. Mendengar itu Zuliana diam dan tersenyum saja, karena dia tahu bagaimana Bunda keluar dari tahanan. Begitu selesai makan, bertiga mereka menuju ke mobil. Di dalam mobil Zuliana menyerahkan amplop kuning berisi uang 10 juta.

“Apa ini Ana?”

“Ini sedikit ada rezeki untuk pegangan Bunda. Dan ini bisa bunda pakai nanti di hari pernikahan kami. Ini untuk abang, mana tahu ada keperluan apa-apa nanti.”

Bunda terdiam menyaksikan tiga gelang besar yang indah dan tebal. Pastinya sangat mahal. Dan Bunda tahu uang di amplop itu tidak sedikit. Oh,… mulai terasa tidak percuma rasanya bermenantukan Zuliana yang baik hati dan kaya raya. Daham mengucapkan terimaksih perlahan, hampir tidak terdengar dan mengantongi uang yang diberikan calon istrinya. Mobil yang disetir Zuliana menuju rumah lokasi pesta. Belum terbayang oleh Bunda dan Daham bagaimana tempat pesta dan pelaminan disiapkan. * Bersambung