No.38

“Nanti Ma, kalau sudah menikah semua harta Ana menjadi milik bersama. Ana serahkan semuanya kepada abang. Ana sudah siap untuk membuka rekening bank bersama, sebagai bukti berapa pun harta Ana, gaji ana menjadi milik bersama,…”

Intainews.com:MAMA dan Zuliana merasa heran dengan Daham. Sangat pendiam, dan tidak bersemangat seperti kebanyakan laki-laki seusianya. Tidak suka makan enak. Mama menyimpan kesan lelaki ini pemalu, atau karena sedang memikul beban pikiran Bundanya yang dipenjara. Zuliana merasa mungkin calon suaminya takut kalau tidak bisa membayar dan dia akan dituntut ikut membayar.

“Jangan takut Bang, semuanya sudah kita siapkan. Termasuk biaya peresmian perkawinan kita. Selama ini Ana menabung setiap gaji dan bonus kerja lembur. Ini hasil keringat bang,” tegas Zuliana.

Mama menginjak ujung kaki Zuliana di kolong meja. Dengan mata Mama mengingatkan agar jangan bicara soal banyak uang dan terkesan menyombongkan diri. Jumawa. Daham yang belum mempunyai pencaharian akan bisa tersinggung. Hati kecil Daham berkata, ada yang tidak mengenakkan di hati Mama yang akan memperingati Zuliana.

Dia pun permisi untuk shalat ashar. Mama mengangguk sekaligus heran, baru pukul dua siang kenapa mau shalat ashar?

“Kamu sudah membuat dia tersinggung Ana. Jangan anggar banyak uang di depan laki-laki. Biasa-biasa sajalah.”

“Tapi itu kan biasa, supaya dia jangan ragu kalau semua Ana yang membayar. Itu kan kejujuran dan keterbukaan Ana sebagai calon istri. Anak milenia Ma, tidak suka tertutup. Terbuka saja, gamblang dan transparan. Nanti Ma, kalau sudah menikah semua harta Ana menjadi milik bersama. Ana serahkan semuanya kepada abang. Ana sudah siap untuk membuka rekening bank bersama, sebagai bukti berapa pun harta Ana, gaji ana menjadi milik bersama,” ana menjelaskannya dengan lugas.

Mama bertepuk tangan perlahan nyaris tak terdengar sambil senyum. Mengusap lengan Ana dengan bangga, ternyata anaknya punya rancana sendiri setelah perkawinan.

“Bagus Ana, Mama tidak menyangka. Bundanya harus kamu hormati juga, sayangi dia seperti Mamamu juga.”

“Beres Ma, sudah Ana siapkan. Ana sudah menghubungi teman-teman Ana bagaimana caranya mengeluarkan Bunda dari Penjara. Kalau perlu dibayar Ana Bayar Ma supaya kita bahagia berkumpul saat acara pernikahan…,” Mama memotong kata-kata Ana.

“Kalau bisa lebih cepat lebih bagus Ana,” Mama jadi bersemangat.

“Keputusannya dua hari lagi. Jadi besoknya Ana menikah, Bunda sudah bisa bersama kita,” Ana tersenyum kepada Mamanya, sesungguhnya dirinya hebat. Dan Zuliana tahu dari temannya mengenai tindak kekerasan Bunda yang memukuli perempuan meminta ustadz menjadi kekasihnya. Perempuan itu mau menggagalkan pernikahannya dengan Ustadz Daham.

“Bunda marah dan memukulnya. Artinya Bunda membela hubungan Ana dengan Bang Daham. Wajar kan kalau Ana bertanggungjawab dan membela Bunda?

Mama mengangguk-angguk pelan. Sebenarnya bukan Ana yang membayar pencabutan perkara, tetapi selingkuhannya. Namun mama tidak boleh tahu semua ini. Calon suaminya pantang untuk tahu latar belakang gelap dan hitam hidupnya. Itu hasil pertemuan semalam. Dan polisi sudah menghubungi Ana, Bunda dilepas dua hari lagi. * Bersambung